Makassar, 16 Desember 2023
Sabtu mungkin bukan waktu tepat melaksanakan kegiatan, apalagi jika itu terkait kegiatan akademik. Orang-orang kampus mungkin memilih bersantai di waktu weekend. Tapi hari itu, di saat kami menyepakati untuk melaksanakan hari Sabtu, pertimbangannya adalah soal kesiapan orang-orang tua dari Sahabat Sindrom Down Istimewa, SSDI. Menurut Mama Nayla, ibu-ibu dari anak Sindrom Down hanya punya waktu luang di hari Sabtu dan Minggu. Di hari kerja, dari Senin sampai Jumat adalah hari sekolah anak-anak dan peran ibu-ibu ini tak tergantikan. Mereka akan tetap menemani anak-anak mereka berkegiatan, di sekolah, di rumah, atau di tempat lain.
Jadi, kami bersepakatlah melaksanakan hari Sabtu.
Kemarin acara itu berlangsung sudah. Rupanya, dari 50 – 60 pimpinan rektorat dari 30 kampus di Makassar yang kami undang, bilangan yang hadir tak sampai bilangan jari. Memang pesertanya masih kisaran 50-an orang, tapi yang kami benar-benar harapkan hadir adalah pimpinan perguruan tinggi. Beruntung, walau bilangan pimpinan rektorat sedikit, diskusi bernas tetap bisa kami laksanakan.
Lokakarya Pimpinan Perguruan Tinggi ini seyogyanya dipimpin oleh Prof Jamaluddin Jompa, namun karena ada 4 kegiatan bersamaan yang harus ia hadiri, Prof JJ memilih untuk diwakilkan oleh Prof Adi Maulana, wakil rektor IV. Kami tetap senang, karena Prof Adi juga adalah pimpinan dari Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin. Hari itu, anak-anak remaja Down Sindrom menari ‘lipa’ sabbe’ atau tari sarung sutera melengkapi sesi pembukaan di mana Prof Adi mewakili Rektor Unhas yang tak bisa hadir. Prof Adi bercerita sejumlah kemajuan yang sudah dicapai Unhas sebelum maupun pascapembentukan Pusat Disabilitas Unhas.
Di sesi diskusi, kembali Prof Adi tampil, sebagai pimpinan universitas Hasanuddin. Dari SSDI, ibu Andi Nur Fitri Balasong membawakan sesi pengalaman pendidikan anak Sindrom Down dan Ibu Ananda, seorang Psikolog dan pendiri Bermakna Pshycological Center dengan membawakan materi asesmen pendidikan bagi anak disabilitas intelektual. Diskusi dimoderatori oleh Kepala Pusat Disabilitas Unhas, Ishak Salim.

Dalam pemaparan ketiga narasumber ini, informasi mengenai pengalaman Unhas, pengalaman Ibu dengan anak Sindrom Down dan sikolog memperkaya pengetahuan kita. Dari peserta, seorang praktisi di Sekolah Luar Biasa mengabarkan bahwa memang kurikulum pendidikan yang mereka berikan hanya lebih banyak pada etika dan vokasional. Sementara itu pelajaran sains, matematika dan Bahasa tidak diberikan. Jadi, memang akan ada gap pengetahuan, ketika lulusan SLB memasuki perguruan tinggi. Untuk itu perlu membangun jembatan yang bisa mengantar anak-anak dengan disabilitas yang menyelesaikan studi mereka di SLB saat memasuki perguruan tinggi.

