Oleh: Nabila May Sweetha, Mahasiswi Ilmu Politik.
Mahasiswa difabel dan Relawan Teman Difabel Pusdis Unhas sedang berkumpul setelah menyambut kedatangan Dubes Australia, saat Memet alias Slamet Riadi, istri dan kedua temannya dari Walhi Sulawesi Selatan datang. Sore yang sejuk di kampus Unhas yang pantas disebut sebagai paru-paru kota Makassar. Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) sebelumnya telah berkordinasi dengan ketua Pusdis dan menyampaikan rencana ingin berkunjung, membicarakan sejumlah hal terkait lingkungan dan disabilitas. Itu adalah pembicaraan yang krusial tetapi juga masih sangat jarang dipikirkan orang-orang. Jika pun mulai dipikirkan, belum cukup banyak pihak yang menjadikan isu disabilitas ini penting dalam pembahasan lingkungan atau perubahan iklim.

Diskusi dimulai dengan santai, dan Ishak Salim menyampaikan beberapa poin sebagai pembuka. Tentang krisis iklim dan keterlibatan difabel yang masih sangat kurang. Lalu juga soal gerakan-gerakan penyelamatan bumi yang belum mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan para difabel. Misal seperti penolakan pipet plastik.
“Jika aktivis lingkungan mulai menolak penggunaan pipet plastik, bagaimana dengan difabel Cerebral palsy dengan motorik lumpuh? Mereka yang kesulitan menggunakan pipet berbahan keras seperti aluminium atau bambu. Apakah aktivis lingkungan pernah memikirkan hal-hal seperti ini?”
Ya tentu saja, banyak orang belum terpikirkan hal yang disinggung ketua Pusdis dalam pembukaannya. Jangankan aktivis lingkungan. Aktivis difabel saja, apakah pernah memikirkan bagaimana solusi pembuatan alat bantu yang banyak menggunakan material tidak ramah lingkungan? Apa solusinya?
Bagaimana difabel bisa berperan dalam menjaga kesehatan lingkungan? Atau bahkan yang lebih mendasar, bagaimana difabel dapat mengakses informasi-informasi terkait perubahan iklim dan gerakan anti sampah jika kebanyakan kampanye dilakukan dengan cara-cara yang tidak inklusif?
Sementara untuk berangkat menjadi masyarakat yang terlibat dalam pengurangan sampah dan emisi, tentu saja, difabel sebelumnya harus memiliki pengetahuan dulu. Pengetahuan yang lahir dari proses mengolah informasi.
Satu per satu mahasiswa difabel mulai menceritakan pengalaman mereka masing-masing. Alya (mahasiswa difabel angkatan 2024 jurusan ilmu gizi) misalnya, berbagi pengalaman bagaimana dia dengan adiknya yang juga pengguna kursi roda, pernah terjebak dalam banjir bandang besar di Masamba, Luwu Utara.
Mereka bertiga, Alya, sang adik dan ibunya baru sadar banjir bandang sedang berlangsung saat air mulai memasuki rumah. Untungnya kemudian ayah mereka menyusul datang ke rumah untuk menyelamatkan. Banjir bandang itu memaksa mereka untuk segera menyelamatkan diri, banyak tetangga sekitar yang mulai naik ke atas gunung dan mengajak mereka untuk ikut serta.
“Bagaimana caranya seorang berkursi roda naik ke atas gunung?” Tanya Alya.
Pertanyaan itu menggugah semua orang untuk mulai berpikir, apa yang akan terjadi pada difabel berkursi roda saat terjadi bencana alam akibat dari perubahan iklim extrem? Negara ini, tanpa bencana saja, sudah luar biasa menyulitkan bagi pengguna kursi roda. Bagaimana dengan terjadinya bencana?
Setelah itu, lanjut kemudian Tiara (mahasiswa difabel angkatan 2022 jurusan Antropologi) bercerita soal perasaannya dan bagaimana dia berusaha menyelamatkan diri saat bencana alam beruntun terjadi di Palu (28 September 2019). Saking tidak adanya panduan terkait evakuasi bagi kelompok disabilitas, seorang temannya yang sebelum bencana itu merupakan difabel netra, setelah bencana menjadi difabel fisik juga. Karena tertimpa reruntuhan tembok dan membuat kaki tangannya patah.
Membahas pengalaman mahasiswa difabel yang pernah berada di tengah bencana alam saja sudah sangat panjang dan kompleks, bagaimana dengan difabel yang menghadapi krisis air yang tahun lalu melanda kota Makassar dalam jangka waktu panjang?


“Saat krisis air tahun lalu, semua orang memang terdampak. Tetapi difabel, terlebih lagi jika dia perempuan dan anak atau remaja, menghadapi tantangan yang berlipat kali lebih sulit. mereka kalah dalam mengantri dan berebut air. Mereka dianggap lemah sehingga mengundang kejahatan, akhirnya dilecehkan dan lain sebagainya. Tapi di tengah semua tantangan itu, perempuan difabel tetap harus mencari air. Karena ada urusan-urusan biologis pakem dari diri mereka yang sangat memerlukan air,” kata Lala (mahasiswa difabel angkatan 2021 jurusan Ilmu Politik).
Diskusi itu penuh cerita dan keluhan-keluhan. Mahasiswa difabel, remaja-remaja memenuhi kantor Pusdis dengan bertanya soal posisi mereka di antara krisis iklim dan bencana alam yang kadang-kadang melanda. Tentu saja kecemasan dan pertanyaan-pertanyaan itu bisa merepresentasikan remaja-remaja difabel di luar Unhas, yang juga mungkin saja kesulitan beradaptasi dengan makin maraknya perubahan iklim dan krisis lingkungan. Kedepannya, Universitas Hasanuddin, melalui Pusdis, diharapkan bisa menjumbatani proses produksi pengetahuan isu lingkungan yang lebih berprespektif disabilitas.
Selain mendiskusikan mengenai fenomena Perubahan Iklim yang semakin terasa dan krisis air di wilayah Pesisir Utara Kota Makassar, Memet mengajak kami berdiskusi dengan sudut pandang disabilitas. Apa yang dapat dilakukan bersama untuk mencari dan membangun solusi yang lebih inklusif.
“Saya, warga Rappokalling, benar-benar merasakan kesulitan air bersih,” ujar Ilham berbagi pengalaman. Pun demikian Reza, relawan Teman Difabel yang juga berasal dari Tallo mengatakan bahwa sejak ia kecil, sekitar SD kelas 4, rumah mereka tidak lagi mengandalkan saluran air dari PDAM. Mereka sudah harus membeli air dan kebutuhan itu menjadi bertambah banyak seiring pertumbuhan keluarga-keluarga di sana.
Dalam perbincangan itu, Memet berharap, agar Pusdis Unhas dan Walhi Sulawesi Selatan bisa membangun MOU dan mengerjakan program bersama-sama[].
