Oleh Muh. Fathir Sagta Gemilang, Antropologi Sosial (E071241049), Relawan Teman Difabel

Fathir dan teman-temannya

Awal tahun selalu membawa cerita yang menyenangkan dan tak terlupakan. Baik itu momen kebersamaan dengan keluarga, sahabat, maupun rekan kerja, setiap pengalaman memiliki kesan tersendiri. Begitu pula dengan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin (Pusdis Unhas) yang pada awal tahun 2025 kembali mengadakan kegiatan Rapat Kerja (Raker) untuk kedua kalinya sejak didirikan pada tahun 2023. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, tepatnya pada 22-23 Februari 2025. 

Sebagai mahasiswa baru di Universitas Hasanuddin, khususnya di jurusan Antropologi Sosial angkatan 2024, ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti Raker Pusdis Unhas. Sejak jauh hari, kegiatan ini telah dipersiapkan dengan matang agar berjalan lancar dan sesuai harapan. 

Hari pertama Raker berlangsung di Aula Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Hasanuddin. Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan sesi pandangan umum dan refleksi. Dalam sesi ini, para relawan, baik yang baru maupun lama, berbagi kesan pertama mereka tentang Pusdis Unhas serta menyampaikan saran dan kritik yang membangun. Bagi saya pribadi, bergabung dengan Pusdis Unhas telah membuka perspektif baru mengenai teman-teman disabilitas dan pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. 

Setelah sesi refleksi, kami berdiskusi mengenai berbagai aspek pengembangan Pusdis Unhas ke depan. Saya sendiri terlibat dalam diskusi tentang IT inklusif, yang berfokus pada teknologi yang mudah diakses bagi semua kalangan. Namun, yang menarik, kelompok diskusi saya tidak memiliki latar belakang di bidang IT. Terdiri dari seorang staf rektorat, mahasiswa Sosiologi, kak Ardy, teman seprodi saya, Sulis, dan saya sendiri, kami lebih banyak menerka-nerka topik yang harus dibahas. 

“Pasang mi saja mukanya Teteh di website supaya lebih menarik,” canda Sulis, yang disambut dengan tawa. Meskipun diskusi kami penuh dengan kelucuan, tetap ada banyak ide yang dapat dikembangkan, termasuk usulan saya untuk membuat artikel mengenai eksistensi Pusdis Unhas. 

Setelah sesi diskusi selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, diakhiri dengan sesi foto bersama. Menjelang malam, kami melanjutkan acara dengan makan bersama dan barbeque di Taman Inklusif JJ. Di divisi konsumsi, tempat saya bertugas, suasana dipenuhi gelak tawa karena kami yang bertanggung jawab justru kurang berpengalaman dalam memasak. Mulai dari hampir mencuci selada dengan sabun hingga ada yang nyaris menangis karena memotong bawang, kejadian-kejadian ini menjadi momen sangat lucu.

Keesokan paginya, kami berangkat menuju Wisata Kebun Gowa menggunakan bus Unhas. Perjalanan diisi dengan canda tawa, nyanyian, dan foto bersama. Setibanya di lokasi, kami langsung bersiap mengikuti berbagai permainan yang telah disiapkan oleh panitia divisi acara.  Permainan yang paling kami mainkan adalah oper karet gelang menggunakan sedotan yang diletakkan di mulut. Setiap tim terdiri dari berbagai peserta, termasuk teman netra dan tuli, sehingga kami perlu berkomunikasi dengan lebih kreatif menggunakan isyarat dan arahan. Ini seringkali menjadi momen lucu ketika arahan tidak sesuai rencana, sehingga kami harus mengulang operan karet dari awal. Saya dan seorang teman dari prodi Gizi, kak Naldi, berada di posisi paling belakang yang bertugas menampung karet gelang, sehingga harus terus memiringkan leher dan kepala. 

“Sakitmi leherku, lama-lama jadi teleng ka’ ini,” keluh saya sambil tertawa. Sementara itu, kak Naldi yang berbeda tim dengan saya, diam-diam memperbaiki posisi sedotannya agar lebih nyaman. Tapi, setelah permainan berakhir, tim saya keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah berupa snack. 

Kegiatan berikutnya adalah sesi yang paling saya tunggu-tunggu, yaitu tukar kado. Jauh hari sebelumnya, kami sudah diarahkan untuk membeli kado dengan harga maksimal Rp30.000 dan memilih barang yang bisa digunakan oleh siapa saja (unisex). Saya tidak menyangka bahwa hadiah-hadiah yang dibawa teman-teman sangat menarik dan unik. Ada yang mendapatkan handuk (yaitu saya), cokelat dan snack, tumbler, mug, ponco, sandal, baju, hingga congklak, hadiah yang sebenarnya paling saya inginkan. Kegiatan ini sangat seru dan membuat penasaran melihat hadiah yang didapatkan oleh teman-teman lain. Saya dan Yaya, teman seprodi saya, juga menertawakan Sulis ketika melihat kado yang dia dapat adalah Ponco, karena barang itu adalah barang yang harus kami bawa dahulu ketika Pengkaderan, sehingga mengingatnya saja sudah lucu.

Selanjutnya, kami menuju kolam renang untuk bermain air. Awalnya, saya sedikit kecewa karena seluncuran tertinggi telah ditutup karena hari sudah sore. Namun, masih ada seluncuran lain yang tetap seru untuk dicoba. Salah satu momen yang paling mengundang tawa tapi juga melihatnya membuat terharu, adalah ketika Kak Mega, salah satu teman di Pusdis Unhas yang menggunakan kursi roda, ikut berenang dengan digendong oleh Ketua Pusdis Unhas, Kak Ishak. Selain itu, ada juga kejadian spontan ketika Kak Syakira, yang awalnya hanya duduk di tepi kolam, tiba-tiba diceburkan oleh teman-teman lainnya. 

“Jangan eh, tidak tahu ka berenang,” ucap Kak Syakira sebelum tercebur, diiringi tawa kami semua. Lucunya, sebagian besar dari kami yang ikut menceburkannya juga tidak bisa berenang.

Kami begitu menikmati waktu di kolam hingga lupa waktu. Meskipun awalnya hanya diberi waktu 30 menit, kami akhirnya berenang hampir satu jam sebelum bergegas mandi dan bersiap untuk makan bersama sebelum pulang. 

Kami makan di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari Wisata Kebun Gowa. Restoran ini memiliki suasana yang asri dengan banyak pepohonan dan tempat makan lesehan berbentuk gazebo yang mengelilingi kolam ikan berisi ikan koi dan ikan emas. Karena jumlah rombongan kami cukup banyak, kami harus duduk terpisah di tiga gazebo yang tersedia. Salah satu teman membawa es krim dan menyimpannya di gazebo tempatnya duduk, sementara saya kebetulan membawa sendok dan wadah es krimnya di gazebo lain. Ketika menyadari bahwa es krim dan sendoknya terpisah, kami mulai bersahut-sahutan. 

“Sembunyikan sendoknya, jadi tidak bisa mereka makan es krimnya,” kata Alya, yang duduk bersama saya. 

“Ih, tapi kita punya es krimnya, langsung makan di sini saja, kita habiskan!” sahut salah satu teman Pusdis Unhas yang sering dipanggil Bunda.

Namun, akhirnya tetap saja kami pun makan bersama-sama es krimnya hingga habis tak tesisa sedikit pun.

Setelah makan, perjalanan pulang diisi dengan suasana yang lebih tenang. Beberapa teman tertidur kelelahan, sementara yang lain masih semangat berbincang dan berkenalan lebih jauh. Salah satu teman seprodi saya, Yaya, sibuk berkenalan dengan teman Pusdis Unhas lainnya yang belum pernah dia temui sebelumnya. Dia bahkan sampai mengajak foto bersama dan bertukar akun Instagram. Sementara itu, saya, Sulis, dan Kak Nabila yang menjadi fotografer dadakannya justru sibuk menertawainya. Tanpa terasa, di tengah canda tawa itu, kami pun tiba kembali di kampus.

Together we strong

Setibanya di kampus, hujan gerimis menyambut kedatangan kami, seolah-olah ikut merayakan cerita panjang yang kami bawa hari ini. Suasana UNHAS yang rimbun dengan pepohonan membuat udara terasa lembap, tetapi hati kami tetap hangat dan tenang karena dipenuhi kesan-kesan berharga dari perjalanan ini. Sebelum pulang ke rumah, kami berkumpul sebentar di Pusdis Unhas untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba kak Halim, teman yang baru saja bergabung di Pusdis Unhas yang tidak sempat ikut Raker datang dan mengadakan mini games dengan hadiah menarik. Ada satu hadiah kecil dan dua tiket bioskop untuk film pilihan pemenang. Awalnya, saya berniat langsung pulang, tetapi karena tergoda dengan mini games ini, saya memutuskan untuk tetap tinggal.

Permainan berlangsung seru, penuh ketegangan dan konflik lucu. Dalam mini games pertama, yaitu tebak angka yang disimpan Kak Halim, Yaya menjadi pemenangnya. Karena sudah menang, seharusnya dia tidak bisa lagi ikut mini games selanjutnya, tetapi dia tetap saja ingin ikut karena mengincar hadiah tiket bioskop. 

“Yaya diam!” 

“Blacklist Yaya!” 

“Suruh dulu pulang Yaya buat biskuit.”

“Lakban dulu mulutnya Yaya haha.”

“Sembunyikan dulu itu Yaya.”

Jokes-jokes lucu pun bermunculan dari saya dan teman-teman lain yang melihat Yaya tetap ngotot ingin bermain meskipun sudah menang. Sampai akhirnya, dia benar-benar tidak bisa ikut lagi, yang tentu saja membuat kami semua tertawa. Pada mini games kedua, yaitu kuis seputar pengetahuan umum, saya dan Kak Nanda berhasil menjadi pemenangnya.

Rapat Kerja Pusdis Unhas pun resmi berakhir. Kegiatan ini bukan hanya sekadar rapat dan rekreasi, tetapi juga menjadi momen yang penuh makna, dengan mengutamakan kebersamaan, keseruan, dan tentu saja inklusivitas. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal Pusdis Unhas dalam mewujudkan tujuannya, yaitu menciptakan lingkungan kampus yang lebih inklusif untuk semua orang.