Suara dari Foto-foto Seorang Penyintas: Dedy Sasmita Menyuarakan SkizoPower!

Dedy Sasmita dalam sebuah tenda orange

Oleh Ishak Salim, Kepala Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin

Berikut adalah foto-foto dari Muhammad Dedy Sasmita. Foto-foto ini awalnya menjadi bagian dari tulisan Dedy sebelumnya di website udc ini. Namun karena keterangan dalam foto itu sendiri memiliki kekuatan, maka redaksi memutuskan menerbitkannya secara terpisah. Melalui foto-foto ini, Dedy menyuarakan semangat dan keinginan kuat untuk hidup setara serta terus menyuarakan kekuatan kepentingan dan hak-hak warga dengan Skizoprenia. Selamat menikmati.

Dari tempat tinggi ini, aku belajar melihat hidup dari sudut pandang yang lain.
Meski jatuh berkali-kali, nyatanya aku masih bisa berdiri dan tersenyum.
Dari tempat tinggi ini, aku belajar melihat hidup dari sudut pandang yang lain.
Meski jatuh berkali-kali, nyatanya aku masih bisa berdiri dan tersenyum
.
Malam yang gelap tak selalu berarti akhir.
Kadang ia adalah gerbang menuju versi diri yang lebih kuat.
Aku melewatinya, pelan-pelan, tapi pasti.
Malam yang gelap tak selalu berarti akhir.
Kadang ia adalah gerbang menuju versi diri yang lebih kuat.
Aku melewatinya, pelan-pelan, tapi pasti.
Seperti gunung di kejauhan, perjalanan pulih itu curam.
Tapi hari ini aku bisa menatapnya, tersenyum padanya, dan berkata:
"Aku masih bertahan.
Seperti gunung di kejauhan, perjalanan pulih itu curam.
Tapi hari ini aku bisa menatapnya, tersenyum padanya, dan berkata:
“Aku masih bertahan.
Ijazah ini bukan sekadar bukti akademik.
Ia adalah bukti bahwa aku bertahan, bahkan ketika pikiranku sendiri menjadi medan perang.
Ijazah ini bukan sekadar bukti akademik.
Ia adalah bukti bahwa aku bertahan, bahkan ketika pikiranku sendiri menjadi medan perang.
Dedy Sasmita dalam sebuah tenda orange.
Di tengah hening dan alam, aku bertemu dengan diriku sendiri.
Tak perlu berpura-pura, tak perlu menjelaskan apa-apa.
Hanya aku, dan napas yang masih berjalan.
Di tengah hening dan alam, aku bertemu dengan diriku sendiri.
Tak perlu berpura-pura, tak perlu menjelaskan apa-apa.
Hanya aku, dan napas yang masih berjalan.
Kadang, saat merasa tidak berguna, aku lupa…
Bahwa bahkan dalam luka, aku tetap bisa memberi hidup.
Kadang, saat merasa tidak berguna, aku lupa…
Bahwa bahkan dalam luka, aku tetap bisa memberi hidup.
Laut mengajarkanku tentang gelombang.
Ada pasang, ada surut.
Seperti diriku kadang kuat, kadang rapuh. Tapi tak pernah berhenti jadi indah.
Laut mengajarkanku tentang gelombang.
Ada pasang, ada surut.
Seperti diriku kadang kuat, kadang rapuh. Tapi tak pernah berhenti jadi indah.
Mungkin bahagia itu sesederhana ini:
bernafas lega, minum kelapa muda, dan tidak harus berpura-pura baik-baik saja.
Hari ini, aku cukup.
Mungkin bahagia itu sesederhana ini:
bernafas lega, minum kelapa muda, dan tidak harus berpura-pura baik-baik saja.
Hari ini, aku cukup.
Di balik selempang ini, ada cerita yang tak selalu terlihat.
Aku pernah merasa tak layak mewakili siapa pun.
Tapi hari ini, aku tahu: suara penyintas juga penting untuk didengar.
Di balik selempang ini, ada cerita yang tak selalu terlihat.
Aku pernah merasa tak layak mewakili siapa pun.
Tapi hari ini, aku tahu: suara penyintas juga penting untuk didengar.
Beginilah rupa isi kepala yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Coretan tak beraturan.
Kemarahan yang tak tahu ke mana harus dibuang.
Tangan yang gemetar menahan semuanya agar tidak meledak.

Tapi inilah aku, di titik paling rapuh—yang justru menjadi awal dari keberanian untuk sembuh.
Mungkin bentuknya tak indah, tapi inilah suara yang akhirnya bisa keluar.
Sebab tak semua luka berdarah, dan tak semua sakit bisa terlihat.
Beginilah rupa isi kepala yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Coretan tak beraturan.
Kemarahan yang tak tahu ke mana harus dibuang.
Tangan yang gemetar menahan semuanya agar tidak meledak.
Tapi inilah aku, di titik paling rapuh—yang justru menjadi awal dari keberanian untuk sembuh.
Mungkin bentuknya tak indah, tapi inilah suara yang akhirnya bisa keluar.
Sebab tak semua luka berdarah, dan tak semua sakit bisa terlihat.

Sebagai catatan penutup, saya ingin menyampaikan percakapan via Whatsapp dengan Dedy di suatu pagi di akhir Mei 2025. Percakapan ini semoga menjadi awal dari cita-cita maupun harapannya untuk bisa melakukan banyak hal bermanfaat.

Saya mengusulkan ide pemanfaatan Lounge Mozaic Identities (MOI) sebagai ruang aman untuk berbagi cerita, menggagas ekoterapi di kampus UNHAS, sekaligus mengembangkan program “Ceritakan Sepuasnya”–sebuah wadah yang telah Dedy rintis sebelumnya.

Kita bisa membangun arus gerakan baru,” tulis saya dengan semangat, “sebut saja Skizo-Power! – sebuah upaya merebut kembali narasi tentang skizofrenia dari stigma menjadi kekuatan.

Dedy merespons dengan kerendahan hati khasnya: “Masya Allah, terima kasih untuk energi positifnya, Kak…” Di balik ketertarikannya, ia mengungkap keraguan yang mendalam – ketakutan akan kegagalan, kekhawatiran belum siap, dan perjuangannya membangun kembali diri. “Apakah saya bisa, Kak? Saya sendiri masih butuh pertolongan…”

Saya menenangkannya dengan kalimat sederhana: “Nothing to loose. Kita bergerak perlahan saja.” Jawaban ini seolah menyentuhnya. “Terima kasih, Kak… Ini jawaban yang tak pernah saya dapat dari orang lain,” ujarnya. Ia bercerita bagaimana orang-orang sebelumnya selalu menuntutnya dengan target ketat, sementara ia hanya ingin menemukan rasa aman di tengah pikiran yang kerap kalut. Saya tertegun dengan kalimatnya itu, membayangkan betapa tekanan orang-orang sekitar kita bisa begitu berbahayanya bagi kehidupan seseorang.

Percakapan mengalir ke rencana jangka panjang: pendidikan kesehatan mental untuk anak dan remaja. “Ini usia krusial,” tegas saya. Dedy antusias, “Betul sekali, Kak. Penting sekali sekarang!”

Dialog ini bukan sekadar pertukaran pesan, tapi potret nyata bagaimana ruang aman penting dibangun. Sebuah  ruang di mana kerentanan diakui, proses dihargai, dan harapan ditumbuhkan tanpa paksaan. Sebuah fondasi awal untuk gerakan yang tak hanya menyembuhkan, tapi juga mentransformasi stigma menjadi kekuatan kolektif.

Saya sangat berterima kasih atas tulisan, foto, dan kalimat-kalimatmu yang menyala. Save orang-orang dengan Skizofrenia.

Makassar 03 Juni 2025

Kabar Terkini