Oleh Muh. Mahatma Arrayyan, Relawan Teman Difabel, Pusdis, mahasiswa Data Science, Universitas Terbuka

Ini adalah kegiatan kedua dari PUSDIS yang saya ikuti. Sebelumnya, ada HDI yang cukup berkesan karena terkena badai di tengah acara. Kembali ke acara HUT PUSDIS yang kedua, saya sebenarnya tidak mengikuti kepanitiaan sejak awal. Saya kurang tertarik dan juga memiliki kesibukan lain saat itu. Namun, Jun mengirim daftar tokoh untuk sebuah drama. Ketika melihat daftar itu, saya jadi tertarik menjadi seorang narrator. Saya tahu, seorang narrator dalam drama tidak terlihat atau tidak tampil di atas panggung dan bisa membaca teks. Itu yang saya pikir, tetapi ternyata saat latihan, saya diminta untuk tampil di bagian kanan depan panggung, tidak boleh membaca teks, dan harus mendeskripsikan suasana latar cerita dengan baik. Saya kaget karena tiba-tiba banyak jobdesk yang cukup berat untuk seorang narrator amatir seperti saya. Oh iya, saya mau cerita lebih detail tentang latihan hari pertama.
Latihan Hari Pertama
Latihan drama hari pertama sangat seru karena kita melakukan banyak kegiatan olah-olah: olah suara, olah tubuh, dan olah rasa. Pertama, kita diminta untuk olah suara. Caranya, kita harus bilang A, I, U, E, O dengan tempo dan keras suara yang diatur sesuai aba-aba Kak Ara. Ini cukup seru dan menantang karena ketika suara keras, banyak teman-teman yang tempo-nya jadi berantakan, termasuk saya. Suara keras membuat tempo ikut mencepat.
Setelah itu, ada olah tubuh. Setelah olah rasa, kita menggabungkan kegiatan olah suara dengan gerak tubuh. Caranya, ketika lafal menyebut A, tangan dan badan harus memperagakan huruf A, begitu juga untuk huruf vokal lainnya. Ketika kita memperagakan gerakan itu, kita lempar ke teman lain (oh iya, kita sambil melingkar). Untuk gerakan lanjutan dari olah tubuh, kita diminta untuk menekuk kaki sampai kedua lutut saling bertemu, lalu berjalan sambil bilang A, I, U, E, O dengan keras. Kita melakukannya dengan tawa dan bahagia.
Kegiatan Lanjutan
Selang beberapa hari, kita terus latihan drama. Saya tetap hadir di setiap latihan bersama Kak Mifta. Oh iya, Kak Mifta juga berperan sebagai Bu Risna di drama ini. Cukup beruntung karena hanya mendapatkan beberapa dialog saja. Bicara soal Kak Mifta, kami berdua memiliki kegiatan lain, yaitu menjadi MC di kegiatan Komunita untuk acara seminar di kantor OJK. Ketika sudah mendekati penampilan drama, kami terpaksa tidak dapat menghadiri kegiatan latihan karena jadwal yang bertabrakan dengan gladi di kantor OJK. Sangat disayangkan karena kita tidak dapat menghadiri latihan itu.
Keesokan harinya, kegiatan MC saya bersama Kak Mifta berjalan lancar, tetapi kami juga tidak dapat mengikuti latihan karena kegiatan kami berlangsung cukup lama di luar dugaan. Akhirnya, latihan hari itu ditunda.
Persiapan Menjelang Penampilan
Ketika H-1 penampilan drama, kita latihan lagi. Kali ini dihadiri oleh penulis naskah, Kak Lala. H-1 justru banyak yang berubah di sisi narrator. Banyak sekali dialog saya yang dipangkas. Saya senang karena selain dialog yang dipangkas, saya bisa membaca di kursi penonton tetapi menggunakan mic. Jobdesk saya sekarang tinggal menjelaskan latar di awal setiap adegan dan menerjemahkan bahasa isyarat teman tuli.





Hari yang Ditunggu
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, tanggal 28 Juni 2025, adalah Hari Ulang Tahun PUSDIS yang kedua. Di hari itu, kami banyak bersiap-siap. Ada dari panitia konsumsi yang sibuk mengurus snack dan makan siang panitia, lalu ada tim perlengkapan yang sibuk mengurus barang apa yang masuk ke dalam bus. Divisi pubdok mempersiapkan persenjataan mereka untuk mengambil dokumentasi, dan lain-lain. Sementara saya sibuk mengurus laptop karena mengerjakan sebuah proyek. Banyak teman-teman PUSDIS yang bertanya kepada saya, “Ryan, di mana Kak Mifta?” Lalu saya menjawab, “Dia lagi ada kegiatan lain, tapi tenang, dia bakal datang kok karena kegiatannya tidak jauh dari Pantai Losari.” Sembari menunggu bus, saya absen dan mengambil konsumsi. Kita makan ayam andalan Miki, enak, saya suka.
Tak lama kemudian, dua bus UNHAS datang menjemput kita. Pergerakan teman-teman panitia meningkat dua kali lipat. Saya masuk ke bus dengan speaker, lalu melanjutkan proyek saya. Tak terasa, kita sudah tiba di Pantai Losari. Kami semua turun sambil membawa barang-barang, setiap orang satu barang. Untung saya bawa speaker, jadi tidak usah pusing-pusing. Lalu kami berjalan bersama menuju panggung acara kita. Terdapat tiga tenda dan sebuah panggung yang cukup besar dengan dua speaker di sisi kanan dan kiri depan panggung. Beberapa teman-teman panitia ada yang duduk dan langsung makan di bangku yang sudah disediakan. Beberapa ada yang sibuk mengurus registrasi. Saya juga bantu-bantu sedikit. Kak Hijje bertanya lagi kepada saya, “Di mana Kak Mifta?” Lalu saya jawab, “Dia lagi ada kegiatan, tapi bakal nyusul ke sini kok.” Lalu saya lanjut bantu-bantu.
Tak lama kemudian, saya melihat Kak Mifta dari kejauhan dan menghampirinya. Penampilannya sangat cantik hari itu. Dia memakai batik, kerudung warna abu-abu keunguan, dan rok krem. Kami jalan sebentar, membeli minuman, lalu kembali ke panggung. Ketua PUSDIS dan bunda sudah datang, ada Dita juga. Tak lama kemudian, rangkaian acara pertama dimulai, yaitu audit Pantai Losari untuk mengecek aksesibilitasnya. Oh iya, tema kegiatan kali ini adalah “TOURISM FOR ALL”. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran publik terkait pentingnya pariwisata yang inklusif dan dapat diakses oleh segala kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Kota Makassar, saat ini kita cek Pantai Losari. Saya mengambil banner dan kita mulai keliling Pantai Losari. Kak Mega berada di barisan depan dengan pengguna kursi roda, sementara yang lainnya mengikuti di belakang. Saya salut dengan tim pubdok yang sangat berkomitmen mengambil gambar. Ada Kak Alya yang dibantu teman relawan menggunakan kursi roda.

Selama audit itu, Kak Mifta tidak mau dekat-dekat dengan saya karena dia mau di belakang. Saya yang membawa banner harus di depan, jadi selama jalan saya mikir, “Bagaimana cara agar saya bisa tidak pegang banner ini?” Saya berpikir apakah saya kasih ke orang lain, tetapi setelah saya scan orang-orang sekitar, tidak ada yang memungkinkan untuk diberikan banner ini. Mereka terlihat sibuk dengan urusan masing-masing dan ada yang tidak saya kenal. Kita berjalan menuju sisi kiri Pantai Losari. Saya melihat awan Cumulonimbus dari kejauhan. Ingin mengatakannya ke teman yang lain, tetapi Kak Mifta bilang itu akan memecah semangat mereka, jadi kami pendam saja. Kita pun tiba di sisi lain Pantai Losari. Kita mengambil foto di patung kata Makassar. Setelah berfoto-foto, kami mendengar orasi dari Kak Ilham. Kita semua jadi bersemangat kembali. Ketika ingin pergi kembali ke panggung, beberapa madif dipanggil oleh Ketua PUSDIS untuk mengikuti assesment. Sisanya berjalan kembali ke panggung. Saya dengan banner saya mengambil barisan depan lagi.
Kembali ke Panggung
Sesampainya di panggung, kita diberikan snack oleh panitia konsumsi. Para tamu tentunya diprioritaskan. Setelah semua sudah mendapat snack, saya mengambil jatah saya dan Kak Mifta. Sambil menunggu teman-teman yang lain dari assesment, kita makan snack kita. Saya dan Kak Mifta duduk di sisi kanan barisan paling depan tenda. Setelah teman-teman dari assesment datang, panitia segera mempersiapkan tenda dan panggung untuk memulai acaranya. Tetapi tak lama kemudian, gerimis mulai turun. Ketua PUSDIS teriak, “DIMANA DIVISI PAWANG HUJAN?!” Kocak. Tak lama kemudian, semua siap. MC kita yang luar biasa, Alan dan Widya, membuka acara, lalu dilanjutkan dengan beberapa sambutan dari orang-orang penting dan rangkaian acara formal lainnya.
Setelah semua itu, acara pentas seni dimulai. Ada penampilan tari empat etnis oleh teman SSDI, puisi ragam difabel oleh PUSDIS. Saya sangat kagum dengan mereka semua karena sambil mereka tampil, cuacanya sangat tidak mendukung. Ada badai hujan yang deras dan angin yang kencang, tetapi semangat mereka tidak goyah. Mereka tetap melanjutkan penampilan seolah tidak ada itu semua. Lalu yang ditunggu-tunggu, penampilan drama.
Penampilan Drama
Ketika penampilan drama, saya diminta untuk menggunakan mic. Hujan masih sangat deras dan saya memilih untuk duduk di tenda di antara keramaian. Saya perhatikan Kak Cuis dan Kak Zahra untuk adegan pertama. Saya lihat Kak Zahra sudah memasang wajah jengkel sebelum masuk ke panggung. Entah apa yang dia pikirkan sampai bisa mendapatkan ekspresi tersebut. Semua sudah siap. Saya tinggal menunggu lagu dari Wildan. Lagu dimulai dan saya mulai bernarasi. Adegan 1 dimulai: “Tri mengemas barangnya. Ia memasukkan baju, buku, dan obat-obatan. Tak lama kemudian, ibunya masuk ke kamar dengan wajah yang jengkel.” Adegan ini menggambarkan bagaimana penyandang disabilitas dianggap remeh di kehidupan sosial, walaupun sebenarnya di rumah dia dapat melakukan berbagai hal secara mandiri. Para penonton terlihat exited dengan adegan 1 karena akting Kak Zahra yang menggetarkan hati. Akting marahnya selalu sampai ke para penonton, bahkan sejak latihan. Penonton masih tersenyum dengan adegan satu, lalu kita lanjut ke adegan 2: “Di SLB, para guru dan murid sedang berkumpul sambil menunggu bus.” Di adegan ini terlihat keberagaman. Ada teman buta yang memakai tongkat, ada yang memakai kruk, ada teman-teman tuli, autis, dan sipi. Mereka berkumpul bersama ingin pergi berekreasi di museum. Ketika adegan 2, hujan makin deras. Suara mereka sulit terdengar, tetapi walau hujan deras, mereka tetap melanjutkan penampilan dengan semangat.





Adegan ke 3 dimulai: “Di dalam museum, Putra dan guru Rahmat sedang berjalan masuk ke suatu ruangan. Di sana banyak lukisan yang terpajang.” Adegan ini menceritakan tentang bagaimana tempat wisata museum ini belum akses untuk banyak teman-teman disabilitas. Teman-teman melanjutkan drama dengan sangat baik. Walau cuaca tak mendukung, saya dapat melihat dengan jelas semangat dari mata mereka. Di adegan ketiga ini, saya juga menerjemahkan bahasa isyarat. Setelah drama selesai, semua aktor, termasuk saya, diminta kembali ke panggung masing-masing, memegang banner dan melafalkan yel-yel di panggung.
Lalu kegiatan pentas seni dilanjutkan. Ada penampilan lagu bahasa isyarat dan flashmob dari PUSDIS. Lalu ada penampilan dari bintang tamu Ruang Baca. Kami menikmati penampilan pentas seni dari semua performer.
Sebuah Kisah yang Berlanjut
Setelah itu semua, hujan mulai reda dan panitia mulai mengarahkan kita untuk naik ke Phinisi. Saya duduk dengan Kak Mifta di lantai 3. Kami menunggu kapal Phinisi berjalan cukup lama. Sambil menunggu kapal jalan, saya dan Kak Mifta mendengar lagu bareng sambil pakai headset. Kita juga mengambil beberapa foto bareng. Tak lama kemudian, Dita datang. Kita mengambil beberapa foto bareng lagi dan ngobrol sama Dita. Kapal pun bergerak.
Lalu memasuki waktu Maghrib, saya sholat di kamar lantai dua sisi kanan kapal. Sebenarnya ada banyak rangkaian acara di lantai satu yang dipandu oleh MC kita yang luar biasa, Alan dan Widya, tetapi saya memilih untuk stay di lantai 3 menikmati pemandangan bersama Kak Mifta. Yang ditunggu-tunggu pun tiba, makan malam! Yeay! Saya mengambil satu piring tetapi dengan porsi jumbo untuk saya dan Kak Mifta. Kita makan sambil mendengar lagu. Tak lama datang lagi Dita sambil membawa es buah. Kak Mifta mau juga es buahnya, jadi saya pergi ambilkan. Makan kita tinggal sedikit. Ketika makanan habis, saya pergi ke bawah untuk mengambil es buah dan air gelas di lantai 1. Nah, ketika saya kembali ke lantai 3, saya kebingungan karena tidak melihat Kak Mifta dan Dita di tempat duduk yang tadi. Saya melihat sekitar mencari mereka, lalu saya melihat mereka jalan dari lantai 2. Mereka terlihat syok, sambil Kak Mifta mencoba untuk menenangkan Dita. Saya bertanya-tanya, lalu Kak Mifta akhirnya menceritakan bahwa tadi mereka sebenarnya ingin bersembunyi agar membuat saya bingung. Tetapi ketika mencari tempat persembunyian, mereka menemukan hal mengejutkan yang membuat mereka berdua tidak nyaman.

Setelah makan, saya dan Kak Mifta keliling kapal, lalu kami mengambil beberapa foto. Tak lama teman-teman PUSDIS mulai memutar lagu Jedag Jedug dan mulai joget mengelilingi meja makan di lantai 1. Suasananya terisi gelak tawa, semua berjoget mengikuti lantunan lagu. Saya memperhatikan mereka dari dekat, sambil menggerakkan badan sedikit. Beberapa kali saya diajak untuk ikut barisan, tetapi saya menolak dan memilih untuk tetap di belakang. Saya mengambil bunga tumpeng, lalu mencoba memberikannya ke Kak Mifta. Ternyata dia senang, tetapi sedikit mempercandakan karena bunga pertama yang saya kasih adalah bunga gratisan dari nasi tumpeng. Saya merekam reaksi Kak Mifta. Dia mengatakan bahwa tidak dapat menyimpan bunga ini. Saya tidak apa-apa, terus menyarankan untuk meletakkannya di laut saja agar cerita kita berlabuh ke seluruh dunia.
Kapal mulai merapat ke dermaga. Kita siap-siap turun. Begitu sampai kembali di panggung, saya terkejut karena panggung sudah mulai dibersihkan dan saya tahu banyak barang-barang Kak Mifta yang saya letakkan di panggung. Saya mencarinya, menanyai teman-teman perlengkapan, tetapi tidak ada yang mengetahui di mana barang diletakkan. Lalu saya memutuskan kembali ke kapal, berharap ada yang menyimpannya di kapal. Tetapi tidak ada juga. Lalu begitu kembali ke panggung, saya melihat kursi roda dengan barang-barang Kak Mifta. Saya aman malam itu. Terus kita bersiap untuk pulang. Kak Mifta naik ke bus dan saya naik ke mobil.
Kegiatan HUT PUSDIS yang kedua ini sangat berkesan bagi saya. Saya mulai mengambil peran sebagai narrator di kegiatan tersebut, lalu dapat menyaksikan berbagai penampilan seni yang luar biasa. Saya juga mendapatkan pengalaman naik kapal Phinisi bersama Kak Mifta secara gratis. Jadi, ya, hari yang seru. Saya jadi tidak sabar untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam kegiatan PUSDIS selanjutnya. Terima kasih.



