
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kawan-kawan.
Perkenalkan, nama saya Muhammad Iqbal, biasa disapa Iqbal. Saya adalah pendamping mahasiswa difabel di Universitas Hasanuddin Makassar. Saat ini, saya mendampingi A. Muh. Zulfikar Afdhal, atau yang akrab dipanggil Fikar. Fikar terdiagnosis dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sebuah gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan kesulitan fokus, perilaku impulsif, dan aktivitas berlebihan. Akibatnya, Fikar sering kali aktif dan mengoceh sendiri dalam kesehariannya.
Pengalaman Sebagai Pendamping
Sebelum menjadi pendamping mahasiswa difabel di Unhas, saya pernah menjabat sebagai Guru Pembimbing Khusus (GPK), mendampingi Fikar selama satu tahun di Sekolah Islam Terpadu Darul Fikri Makassar, tempat Fikar menempuh pendidikan dari SD hingga SMA. Alhamdulillah, saya banyak belajar dan dibimbing oleh koordinator serta Kepala Departemen Pengembangan Inklusi (DPI) tentang cara menghadapi dan membimbing siswa berkebutuhan khusus.
Kegiatan Favorit Fikar
Salah satu hal yang sangat disukai Fikar adalah menggambar bendera negara atau planet dengan imajinasinya yang kaya. Dalam hal makanan, Fikar sangat menyukai bakso dengan porsi JUMBO. Ia biasanya memulai dengan dua tusuk bakso, masing-masing berisi lima biji, kemudian melanjutkan dengan satu mangkuk bakso lengkap dengan tahu dan kerupuk. Fikar menikmati makanannya dengan tenang, tidak ingin ada gangguan.




Perbedaan dalam Pembelajaran
Ada beberapa perbedaan signifikan antara mendampingi Fikar saat SMA dan di perguruan tinggi. Di sekolah, Fikar belajar materi dengan level yang lebih rendah, sedangkan di kampus, ia mendapatkan materi kuliah setara dengan teman-teman sekelasnya. Namun, pemahaman Fikar terhadap materi tersebut masih terbatas. Saya pun dituntut untuk memahami semua materi kuliah dengan latar belakang Manajemen agar bisa mereview dan menjelaskan kembali kepada Fikar. Nyatanya, saya juga tidak selalu memahami semua materi kuliah.
Pernah terjadi saat kelas Manajemen Operasional, Fikar tiba-tiba mengoceh dengan sangat keras, sehingga suasana kelas menjadi tidak kondusif. Dosen yang mengajar, seorang Guru Besar/Professor, mengatakan kepada saya, “Fikar tidak perlu masuk kuliah, cukup datang untuk mengabsen, nanti nilainya saya kasih A.” Saya merasa terkejut dan tidak nyaman mendengar pernyataan itu. Dalam hati, saya berbisik, “Tabe prof, ini bukan sekadar masalah nilai, ini tentang hak untuk belajar.” Saya pun menjelaskan kepada profesor bahwa jika Fikar mengganggu kelas lagi, saya akan membawanya keluar untuk menenangkan diri sebelum kembali ke kelas.

Perubahan Sikap di Kampus
Ketika memasuki dunia kampus, saya melihat perbedaan sikap Fikar. Dulu, di sekolah, Fikar tidak pernah mendekati perempuan yang tidak berjilbab. Namun, di kampus, ia sering berinteraksi dengan teman-teman yang tidak mengenakan jilbab. Terkadang, ia mencoba menarik perhatian dengan membentuk “love” setengah dengan jari-jarinya, berharap mendapat balasan. Beberapa teman perempuannya menerima dan membalas, tetapi ada juga yang merasa takut, terutama yang baru pertama kali bertemu Fikar.
Saya berusaha mengingatkan Fikar untuk bersikap baik, tidak mengganggu teman, dan tidak bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim. Meskipun Fikar mengiyakan, nasehat tersebut sering kali terlupakan dalam waktu singkat. Subhanallah.
Kelebihan di Balik Keterbatasan
Sering kita dengar kalimat, “Di balik kekurangan (keterbatasan) ada kelebihan.” Alhamdulillah, di balik keterbatasan Fikar, ada kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Misalnya, Fikar mampu menghafal nama-nama ibu kota negara dan mengoperasikan komputer. Ia biasanya menggunakan komputer sekolah untuk mengedit gambar bendera negara.
Dalam Al-Qur’an, surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” Ayat ini mengingatkan kita untuk saling rukun, menghargai perbedaan, dan tidak merendahkan satu sama lain, terutama teman-teman yang memiliki keterbatasan. Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



