Oleh Kontributor Media UDC Pusat Disabilitas Unhas
Makassar, 13 Juni 2025 – Di bawah rindangnya pepohonan Taman Inklusif Jalinan Jiwa Universitas Hasanuddin (Unhas), puluhan mahasiswa disabilitas bercengkerama dengan riang. Suasana semakin meriah ketika Alifarqad, mahasiswa autistik Jurusan Ilmu Komunikasi Unhas, merayakan ulang tahun. Sang ibu sebelumnya telah meminta beberapa relawan disabilitas untuk mengorganisir perayaan ini. Melalui bantuan relawan dan pengelola Lounge Mozaic of Identities (MoI), perayaan berlangsung menyenangkan. Makanan dan Ice cream membuat suasana penuh kegembiraan. Relawan dengan penuh semangat membagikan boks makanan perkelompok di mana terdiri dari tiga orang. Tawa dan canda mengisi udara, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat. Inklusivitas ada dalam praktik, bukan sebagai jargon kosong.
Tak jauh dari situ, di dalam Kantor Pusat Disabilitas Unhas, proses asesmen calon mahasiswa disabilitas tengah berlangsung dengan khidmat. Tiga calon mahasiswa dengan berbagai kondisi—termasuk disabilitas intelektual dan Down Syndrome—menjalani serangkaian tes untuk mengukur kesiapan mereka memasuki dunia perguruan tinggi.
Tahapan Asesmen: Dari Formulir hingga Evaluasi Ahli




Ishak Salim, Kepala Pusat Disabilitas Unhas, menjelaskan bahwa asesmen ini merupakan bagian penting dari proses seleksi jalur afirmasi. “Ini bukan sekadar formalitas, melainkan cara kami memahami kondisi dan kebutuhan masing-masing calon mahasiswa,” ujarnya.
Prosesnya terbagi dalam beberapa tahap. Pertama, Asesmen Awal: Calon mengisi formulir pendaftaran yang mencakup riwayat pendidikan dan kebutuhan khusus. Lalu Verifikasi di mana Tim memeriksa kelengkapan dokumen dan melakukan wawancara singkat mencakup kemampuan akademik dasar (calistung), kemampuan menggunakan perangkat digital untuk belajar, dan kesiapan dukungan dari orang tua. Terkhusus calon mahasiswa dengan disabilitas intelektual, Asesmen Khusus oleh Ahli dilakukan.
Bagi calon dengan disabilitas intelektual, tim konsultan dan asesor dari Sahabat Sindroma Down Istimewa (SSDI) melakukan penilaian mendalam terhadap kemampuan kognitif, bahasa, dan sosial.
Di ruang asesmen, seorang calon mahasiswa dengan disabilitas grahita duduk tenang, sesekali menunduk saat diajak berbicara. Asesor dengan sabar membimbingnya melalui serangkaian tes menulis dan mengenali gambar. Di sebelahnya, orang tua calon juga sedang berbincang dengan asesor.
Potret Calon Mahasiswa: Antara Kelebihan dan Tantangan

Hasil asesmen mengungkap beragam profil. Calon pertama, dengan kondisi grahita, mampu menyalin tulisan namun kesulitan memahami instruksi abstrak. Kontak matanya terbatas, tetapi ia merespon pertanyaan dasar tentang objek sehari-hari. Calon kedua, penyandang Down Syndrome, lebih komunikatif. Ia fasih mengelompokkan gambar hewan dan buah, tapi terkendala dalam menghafal huruf. Kemudian calon ketiga, juga dengan disabilitas grahita, hampir tidak bersuara selama tes. Namun, keahlian motoriknya terlihat menonjol, terutama dalam menulis dan koordinasi tangan.
“Setiap anak punya keunikan. Tugas kami adalah menemukan cara terbaik untuk mendukung mereka,” kata Mushlihah, salah satu asesor.

Cerita Orang Tua: Semangat dan Keterbatasan
Di meja terpisah, konselor berbincang dengan orang tua. Seorang ibu mengaku baru menyadari pentingnya terapi rutin setelah mendengar penjelasan ahli. “Selama ini saya hanya mengandalkan sekolah. Ternyata perlu lebih banyak upaya,” katanya lirih.
Ibu lainnya mengungkapkan dilema antara harapan dan realita. “Saya ingin anak saya kuliah, tapi saya sadar dia butuh waktu lebih lama untuk belajar hal dasar,” ujarnya. Ishak Salim menanggapi, “Kami tidak ingin ini sekadar jadi ambisi orang tua. Yang utama adalah memastikan anak benar-benar siap.”
Kolaborasi untuk Masa Depan Inklusif
Kegiatan hari ini bukan hanya tentang seleksi, melainkan juga membangun kesadaran. Pusat Disabilitas Unhas berencana mengadakan pelatihan untuk orang tua dan calon mahasiswa, termasuk lokakarya metode belajar efektif. Selain itu, hasil asesmen ini akan jadi masukan bagi Unhas untuk memikirkan program untuk mendukung remaja disabilitas intelektual dapat menikmati sistem pembelajaran di kampus. Paling penting adalah Bridging atau matrikulasi untuk menyiapkan kemampuan akademik seperti calistung yang masih kurang. Jika bridging ini bisa berjalan, maka remaja disabilitas di tahun berikutnya akan lebih siap mengikuti pembelajaran di universitas.





Sementara di luar, Alifarqad dan kawan-kawannya masih asyik bercengkerama. Kini ice cream dalam toples besar mulai disendoki ke cone lalu dibagikan satu persatu. . Suasana itu menjadi pengingat bersama bahwa di balik tantangan disabilitas, ada potensi dan kebahagiaan yang menunggu untuk dikembangkan.
