Bangkit Bersama: Menguatkan Difabel dalam Menghadapi Dampak Bencana

Pemberian Bantuan dari Tim Pusdis Tanggap Bencana Sumatera

Kisah Solidaritas, Ketangguhan, dan Kepedulian yang Mengalir Tanpa Batas

Oleh: Nabila May Sweetha, Koordinator Tim Pusdis Tanggap Bencana Sumatera,

Nabila tertawa

Saya tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada difabel di tengah bencana banjir bandang di Sumatera. Saat itu terjadi dan satu dua portal mulai memberitakan, di antara rasa takut, saya memaksa diri untuk membaca. Berharap ada kabar baik yang mengatakan banjirnya tak seberapa tinggi. Berharap ada kabar baik, sedikit saja, walau hanya satu dua kalimat tak sengaja yang membahas bagaimana penanganan pada kelompok rentan, khususnya teman-temanku, difabel.

Tanggal 28 November sampai 8 Oktober 2025 itu, ketika berita soal bencana Sumatera memenuhi media sosial, saya sedang mengikuti Sekolah Gradiasi di Jogja. Setiap kali membuka handphone, saya berusaha mengecek berita terbaru. Sayangnya harapan itu tak terwujud. Banjir yang terjadi sangat tinggi, dan dari hari ke hari bukan semakin tertangani, justru semakin memburuk.

Korban jiwa terus bertambah. Listrik, jaringan, air bersih—semuanya tidak ada. Beberapa daerah terisolasi karena jalanan retak dan hancur. Di media sosial, banyak orang mengatakan bahwa bencana kali ini bahkan terasa lebih berat dibanding tsunami 2004.

Dulu saya tidak begitu sadar pada isu kebencanaan. Mungkin karena saya tak pernah merasakan langsung bagaimana menjadi korban. Makassar, tempat saya tumbuh besar, adalah daerah yang minim ancaman bencana. Tidak ada gunung berapi, tidak ada zona subduksi besar, tidak ada kemiringan lereng. Jika pun kami merasakan gempa, itu hanya sisa-sisanya dari Sulawesi Barat atau Nusa Tenggara.

Namun di usia 21 tahun, Februari 2025 lalu, akhirnya saya merasakan langsung buruknya terkena bencana. Pembangunan masif di Makassar, ruang terbuka hijau yang semakin berkurang, dan perilaku membuang sampah sembarangan membuat Makassar mulai akrab dengan banjir. Setelah hujan, genangan air muncul di mana-mana. Lama-kelamaan, tanpa disadari, Makassar pun menjadi daerah langganan banjir.

Beberapa daerah mulai rutin tergenang. Sayangnya, kelurahan Tamalanrea Jaya—tempat suami saya membeli rumah yang kami tempati setelah menikah—pada tahun 2025 akhirnya juga menjadi langganan banjir. Dua tiga tahun setelah dibeli, rumah itu belum pernah bermasalah. Developer bilang kawasan kami bebas banjir. Memang terlihat lebih tinggi dibanding permukiman warga. Kami percaya. Dua tiga tahun awal, sehebat apa pun banjir, airnya tak pernah melewati fondasi perumahan. Karena itu, saya nyaris tak percaya ketika tetangga dengan panik mengetuk jendela pukul tiga dini hari.

Saya dan suami adalah difabel penglihatan (buta). Teman yang saat itu tinggal bersama kami pun sama. Bertiga, sesubuhan itu, kami meraba ke sana kemari mencari barang. Dua laptop, dua HP, blender, oven, hair dryer, vacuum cleaner, tak terhitung kain dan banyak lagi peralatan kami basah terendam banjir. Tak ada bantuan. Kami terisolasi sebab banjir di jalanan menuju perumahan jauh lebih tinggi. Daerah lain yang sebelumnya tak pernah kebanjiran pun kali itu ikut terendam. Kami panik, tapi bantuan tak kunjung datang.

Kami tak pernah memikirkan apa yang harus dilakukan saat bencana datang. Akhirnya kami mematikan listrik dan mengangkat semua barang ke tempat lebih tinggi. Kompor tertutup tumpukan barang. Seharian kami menahan lapar dan tak bisa berbuat apa-apa. Pertama, jalanan di depan perumahan tak mungkin dilalui. Kedua, kompor tertutup barang hingga mungkin setinggi setengah meter. Tim SAR yang datang pun tidak inklusif dan tidak akomodatif terhadap kebutuhan kami sebagai difabel. Jadilah kami memilih bertahan di rumah, dua malam, dalam keadaan banjir dan terisolasi.

Saya bersyukur pernah melalui masa-masa itu. Karena akhirnya saya sadar betapa rentannya difabel di tengah bencana. Kejadian itu membantu saya lebih peduli. Lebih mampu membayangkan.

Saya ingat, di sela-sela materi di Jogja, saya mengirim pesan di grup Pusat Disabilitas Unhas, bertanya apakah memungkinkan menggalang donasi bagi difabel terdampak bencana di Sumatera. Saya berharap besar Kak Ishak—kepala Pusat Disabilitas—menginisiasi hal itu. Mengingat beliau pernah berpengalaman menggalang donasi besar saat gempa di Palu, Mamuju, dan Covid-19, yang semuanya disalurkan dengan transparan dan tepat sasaran. Langsung ke difabel.

Sesuai harapan, Kak Ishak menanggapi dengan baik. Katanya tentu saja bisa.

Akhirnya, tepat satu hari setelah saya meninggalkan Jogja dan pulang ke Makassar, galang donasi Pusdis Unhas dimulai. Bersama-sama, bahu membahu, kami berusaha membuat galang donasi ini berjalan baik. Kami menyasar dosen-dosen, petinggi kampus, dan juga orang tua mahasiswa difabel. Tetapi banyak pula individu di luar kampus—aktivis difabel, relawan, rekan kerja, bahkan mahasiswa difabel sendiri—yang ikut menyumbang. Terlebih ketika tanpa diduga beasiswa afirmasi cair, mahasiswa difabel Unhas pun tanpa paksaan menyisihkan beasiswa mereka untuk teman-teman di Sumatera. Itu yang paling membuat saya terharu. Karena di tengah listrik padam dan alat bantu hilang terbawa banjir bandang, difabel di Sumatera akan mendapat bantuan langsung dari orang-orang yang tulus peduli.

Dalam masa-masa itu, saya mencoba terus berpikiran positif. Tetapi pertanyaan terus hadir di kepala. Di saat semua orang sedang berjuang untuk pulih, dan semua orang menjadi rentan, di tengah antrean panjang untuk makanan dan bantuan yang terbatas—apakah ada yang memikirkan difabel?

Awalnya kami membentuk kepanitiaan. Kami memulai galang donasi saat Sumatera belum pulih. Akses terbatas, toko-toko banyak yang belum buka, harga barang tinggi. JNE menggratiskan pengiriman donasi. Rencananya kami membeli barang di Makassar dan mengirimkannya ke Sumatera. Namun setelah penggalangan selesai dan salah satu relawan kami tiba di Aceh, informasi lebih detail diterima. Bantuan pakaian bagi perempuan dan anak sangat melimpah. Toko-toko mulai buka. Harga bahan makanan turun. Sementara jika dikirim lewat JNE, paket hanya sampai di kantor JNE dan tidak bisa didistribusikan ke daerah mitra kami: Rumpun Bambu dan Yayasan Suara Aksi Orang Muda.

Kami kembali berkomunikasi dengan mereka, menanyakan apakah memungkinkan jika donasi disalurkan dalam bentuk uang dan mereka yang membeli barang sesuai kebutuhan spesifik difabel di sana. Ini cukup merepotkan karena sebelumnya kami juga sudah meminta mereka mendata jumlah difabel yang paling rentan beserta kebutuhan spesifiknya. Untungnya, mitra kami menyanggupi. Kami membagi dua donasi yang terkumpul dan mengirimkannya langsung. Jumlahnya tak seberapa jika dibandingkan bantuan besar lainnya, tetapi kami puas. Karena nominal yang tak besar itu dihimpun dari kasih sayang dan solidaritas yang akhirnya mengalir sampai ke Aceh.

Beberapa waktu kemudian, kabar yang ditunggu datang. Pak Sanusi dari Rumpun Bambu dan Bu Erlin dari Suara Aksi Orang Muda mengabarkan bahwa mereka menyalurkan bantuan berkolaborasi dengan komunitas lain. Rumpun Bambu menyalurkan bantuan langsung ke difabel di Desa Bengkelang, Aceh Tamiang, dan Sejudo, Aceh Timur. Suara Aksi Orang Muda melakukan hal yang sama, mengajak remaja Masjid Oman ikut membantu.

Pak Sanusi menulis, “Tim Posko Bersama mengantar paket bantuan dari Unhas untuk disabilitas di Kampung Bengkelang, Aceh Tamiang. Dengan jarak tempuh selama tiga jam lebih. Tim berangkat sore ini. Terima kasih untuk bantuannya. Semoga sehat semua. Dan salam untuk para donatur.” Membacanya, hati saya hangat betul.

Dengan menuliskan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh mahasiswa, aktivis, dosen, petinggi kampus, dan semua donatur yang peduli pada keadaan difabel terdampak bencana di Sumatera. Menjadi peduli pada sesuatu yang belum pernah kita alami bukanlah hal mudah, tetapi teman-teman menunjukkan kepedulian itu dengan luar biasa.

Jumlah donasi yang terkumpul saat penutupan adalah Rp14.405.000 dari 47 donatur. Secara berkala kami merilis daftar donatur lengkap, agar tidak satu rupiah pun hilang karena keteledoran kami. Saat penyaluran donasi, jujur saya merasa sedih karena kami tak bisa mengirim alat bantu yang dibutuhkan teman-teman difabel di Sumatera. Daftar kebutuhan sudah dikirimkan Bu Erlin, tetapi nominal donasi tidak mencukupi, bahkan untuk membeli satu alat bantu pun. Kami hanya bisa berharap akan ada lembaga, baik swasta maupun pemerintah, yang kelak menyalurkan alat bantu yang sesuai kebutuhan, bukan alat bantu asal-asalan yang tak nyaman dipakai.

Akhir kata, sekali lagi terima kasih atas kepedulian luar biasa yang kita tunjukkan selama masa tanggap bencana di Sumatera. Semoga semakin banyak pembahasan mengenai rumitnya bencana bagi difabel dan semakin banyak orang yang sadar bahwa penanganan bencana harus inklusif.

Kabar Terkini