Oleh Tim Monitoring, Pusat Disabilitas Unhas
Menjelang ujian final mahasiswa Unhas, kami di Pusdis Unhas sibuk mengkoordinasikan proses ujian dengan dosen-dosen dan mahasiswa disabilitas. Kami ingin memastikan dosen-dosen yang mengajar mahasiswa difabel (madif) menyesuaikan ujiannya dengan kemampuan difabel. Tidak bisa lagi dosen menggunakan standar tunggal dalam mendidik mahasiswa. Unhas, sebagai kampus inklusif, juga telah mendeklarasikan komitmennya. Untuk itu, kami berupaya menyiapkan sejulah hal demi terlaksananya prinsip kesetaraan dalam proses perkuliahan.
Kesibukan masih terus berlanjut saat pemberian nilai akhir kepada mahasiswa. Beberapa nilai yang masih kosong dan Error dari setiap mahasiswa difabel kami periksa dan mendorong mereka berkomunikasi langsung dengan dosen-dosen yang bertanggung jawab untuk mencoba kemungkinan perubahan nilai menjadi lebih baik. Upaya ini berhasil untuk beberapa matakuliah di mana dosen-dosen memberi perhatian dan mencari cara agar penyesuaian bisa dilakukan. Kita semua masih sedang belajar membuat inklusi disabilitas menjadi prinsip praktik perkuliahan sehari-hari di Unhas.
Saat ini, mahasiswa Unhas sedang berlibur dan kami juga telah melakukan monitoring atas implementasi perkuliahan berprinsip inklusi disabilitas. Berikut kami sajikan hasil monitoring untuk tulisan pertama ini dan berikutnya terkait rekomendasi yang diterbitkan pada esok harinya.
Kami akan memulai menjelaskan gambaran mengenai aksesibilitas fisik dan digital, dukungan akademik, dukungan psikologis, aksesibilitas informasi, dan kesejahteraan dan pengalaman kuliah.
A. Aksesibilitas Fisik dan Digital

Megawati
Megawati adalah mahasiswi dengan disabilitas fisik dari Departemen Sastra Indonesia (Fakultas Ilmu Budaya). Untuk bergerak atau mobilisasi perkuliahan (berangkat kuliah, belajar di kelas, dan kembali ke asrama mahasiswa di mana ia tinggal) ia menggunakan kursi roda dan sesekali membawa dua kruknya juga. Untuk keperluan komunikasi, dikarenakan Megawati memiliki kesulitan dalam berbicara dengan kalimat-kalimat panjang, maka ia mengggunakan pena dan buku. Ia akan menuliskannya untuk memperlancar obrolan. Ia juga menggunakan aplikasi pembaca teks atau aplikasi text to voice, di mana ia mengetikkan kalimat yang ia ingin sampaikan dan kemudian setelah mengetiknya ia menekan ikon ‘play’ maka aplikasi itu akan membunyikan kalimat tersebut.
Selama perkuliahan, Megawati mengalami kesulitan yang timbul akibat desain kampus yang berundak-undak dan perkuliahan di lantai dua. Mobilitas ini membutuhkan tenaga ekstra bagi Megawati dan para pendamping disabilitasnya yang membantu mendorong kursi roda Mwgawati dari kamarnya di Ramsis ke ruang kuliah. Megawati semasa semester satu menggunakan kursi roda pinjaman. Ia mendapatkan bantuan kursi roda listrik, namun sulit dipakainya karena Unhas masih berundak-undak. Saat ini ia juga telah memiliki kursi roda sendiri dari bantuan BSI Makassar.
Untuk semester dua, pengelola kademik/perkuliahan sudah perlu mengatur kelas dan dosen-dosen perlu mendapatkan sosialisasi mengenai kondisi dan kemampuan akademik Megawati. Saat ini, Megawati telah memiliki laptop, namun membutuhkan pengajaran khusus untuknya agar dapat mengoperasikan laptop. Megawati selama sekolah menggunakan alat tulis manual dan selama di universitas ia membutuhkan kemampuan tambahan yakni mengoperasikan laptop atau komputer.
Selain itu, untuk Megawati, perlu mendapatkan informasi mengenai mata kuliah, ekspektasi, penugasan, dan evaluasi kepada mahasiswa difabel sebelum perkuliahan dimulai. Kemudian, memastikan bahwa Pusat Disabilitas meminta RPS (Rencana Pembelajaran Semester) dari setiap mata kuliah yang akan diambil oleh mahasiswa difabel dan memberikan akses awal terhadap materi-materi perkuliahan dalam bentuk PDF.
Fitrah Ramadhan

Fitrah Ramadhan adalah mahasiswa dengan disabilitas pendengaran atau Tuli. Dalam berkomunikasi, Fitrah mengandalkan kemampuan berbahasa isyaratnya. Ia tidak ada kesulitan dalam bermobilitas. Sebagai mahasiswa dengan disabilitas pendengaran, ia kesulitan memahami perkataan dosen dan teman jika tanpa difasilitasi seorang dengan kemampuan bahasa isyarat yang dapat menerjemahkan bahasa verbal menjadi bahasa isyarat.
Sehari-harinya, Fitrah belum bisa mendapatkan layanan Juru Bahasa Isyarat. Ia hanya harus mengintegrasikan diri dengan pola belajar mengajar yang konvensional di mana ‘kultur orang dengar’ sangat dominan dan belum dapat mengakomodasi “kultur orang Tuli” yang punya bahasa dan cara berkomunikasi yang unik, yakni berbahasa isyarat.
Untuk mengurangi tingkat kesulitan itu, Fitrah mengandalkan aplikasi di hapenya yang disebut ‘voice to text’, di mana suara (dalam hal ini saat dosen mengajar) akan dikonversi menjadi text di HP Fitrah. Syaratnya, Fitrah harus duduk didekat dosen (duduk di depan). Kelemahan aplikasi ini adalah saat diskusi dalam kelas berlangsung, karena suara akan berganti-ganti dan jika posisi orang yang sedang berbicara jauh dari HP maka proses kerja plikasi tersebut akan kurang maksimal.
Cara lain yang ditempuh Fitrah adalah mengupayakan agar setiap dosen telah menyiapkan bahan ajar, di mana ia dapat memperolehnya lebih awal (minimal sehari sebelum pengajaran mata kuliah berlangsung). Dengan cara itu, Fitrah dapat membacanya dan belajar lebih dulu dan saat dosen mengajar, ia dapat mendapatkan informasi lebih banyak.
Muhammad Ilham
Ilham adalah mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP Unhas. Ia seorang dengan disabilitas penglihatan dengan kategori Low Vision kategori tinggi. Dalam bermobilitas, ia mengandalkan tongkat putih dan pendamping disabilitas.
Dalam berkomunikasi, ia dapat berbicara secara langsung. Jika menggunakan pola komunikasi digital, ia menggunakan HP yang sudah memiliki aplikasi khusus yang disebut JAWS atau pembaca layar.
Untuk mengoperasikan platform berkomunikasi seperti whatssapp atau aplikasi chats, membaca atau menulis, menggunakan email dan mengakses media sosial lainnya, ia dapat melakukannya dengan HP-nya yang akses. Segala teks akan dikonversi menjadi suara dan membaca baginya adalah mendengarkan teks tertulis yang dibacakan otomatis oleh aplikasi screen readernya.
Muhammad Girandy Tryanda
Randi adalah mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi. Ia seorang dengan disabilitas fisik (Cerebral Palsy). Untuk bermobilitas selama perkuliahan, Randi selalu ditemani oleh teman-temannya atau pendamping disbailitas (Relawan disablitas). Ia bisa berjalan secara mandiri namun dalam keadaan tertentu seperti melewati tangga atau tanjakan, ia membutuhkan pendamping untuk memeganginya agar tidak terjatuh. Keseimbangannya tidak kokoh dikarenakan kondisi motoriknya yang lemah otot kakinya, cerebral palsy.
Dalam proses belajar yang kami pantau, Randy sepertinya memiliki kemampuan rendah dalam menangkap materi-materi pembelajaran. Unhas perlu menyiapkan metode pembelajaran yang tepat bagi Randy dan materinya perlu mengalami sejumlah penyesuaian. Informasi-informasi abstrak dari sejumlah mata kuliah tidak dapat dipahami bahkan diingat dengan mudah. Randy membutuhkan layanan pendamping khusus selama belajarnya dan dosen-dosen mata kuliah perlu mendapatkan sosialisasi mengenai kondisi disabilitas Randy.
B. Dukungan Akademik
Megawati
Megawati mengalami ketertinggalan akademik paling panjang. Ia lulus SLB di Galesong tahun 2015 dan mengalami masa keterputusan aktivitas akademik selama 8 tahun. Hal ini menjadi tantangan baginya dalam berkuliah di Unhas. Selama tidak belajar di perguruan tinggi, Megawati pernah mengikuti pelatihan keterampilan kerja di Sentra Inklusi Wirajaya. Ia memiliki keterampilan menjahit dan menerima orderan jahitan.
Sebagai anak dari keluarga nelayan kecil, Megawati mendapatkan beasiswa ‘Adik Difabel’ dari pemerintah. Unhas juga memberinya kemudahan melalui pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal) sebesar 0 rupiah. Selain itu ia juga mendapatkan fasilitas kamar di Asrama Mahasiswa Unhas secara free. Kedua dukungan ini telah memungkinkan Megawati mengikuti perkuliahan selama satu semester.
Megawati juga mendapatkan sejumlah bantuan dari sahabat dermawan, seperti laptop (bukan baru), kursi roda (pinjaman), dan hape (bukan baru). Ia juga mendapatkan bantuan kursi roda elektrik dari Sentra Inklusi Dr. Soeharso, Kota Solo. Semua ini merupakan dukungan yang dapat dimanfaatkan Megawati mengikuti perkuliahan.
Dosen-dosen tertentu memberi Megawati kelas tambahan yang memungkinkan Megawati lebih memahami matakuliah yang dipelajari. Ada juga relawan membantu Megawati mengoperasikan laptop dan membantu Megawati mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Megawati belum memanfaatkan fasilitas akademik yang tersedia di Unhas, seperti perpustakaan dan tidak memiliki kemampuan membeli buku-buku yang diwajibkan dosen-dosen.
Selain itu, perlu juga memfasilitasi Megawati informais mendasar yang ia perlu tahu, seperti: menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum yang sering diajukan oleh mahasiswa difabel, seperti tentang sks, KKN, kaderisasi, peran dosen, dan lainnya. Juga melibatkan mahasiswa difabel dalam kegiatan pengkaderan dan kegiatan inaugurasi untuk mencegah rasa eksklusi dari kegiatan kemahasiswaan.
Fitrah Ramadhan
Fitrah Ramadhan menyelesaikan SLB nya pada 2018 dan ia mengalami keterputusan aktivitas akademik selama 5 tahun. Berbeda dengan Megawati, Fitrah aktif dalam kegiatan aktivisme komunitas Tuli. Ia juga mengikuti sejumlah komunitas literasi di mana ia belajar menulis puisi, prosa, dan seni Tuli. Fitrah juga aktif dalam pengembangan Bahasa Isyarat Indonesia bersama Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia). Sejak kuliah di Universitas Hasanuddin, Fitrah mengelola dua kelas bahasa isyarat, yakni hari Rabu dan Minggu sore. Tidak seperti kelas hari Minggu yang kurang rutin dilaksanakan, kelas Rabu lebih rutin dan dihadiri banyak peminat (sekitar 50-an).
Fitrah membutuhkan dukungan belajar seperti tutor bahasa. Sebagai orang dengan kultur Tuli, ia harus beradaptasi dengan kultur akademik yang selama ini dikontrol oleh orang dengar dengan budaya berbahasa verbal. Dengan adanya tutor bahasa, Fitrah dapat belajar menulis edngan ejaan bahasa yang benar dan dapat membaca sejumlah karya tulis akademik yang banyak konsep dan istilah yang digunakan belum memiliki sistem isyaratnya. Untuk hal tersebut, Pusdis akan memngupayakan ada tutor bahasa Indonesia untuk Fitrah. Saat ini Fitrah sudah mendapatkan beasiswa ‘Adik Difabel’ dan Unhas telah memberikan biaya nol rupiah untuk UKT-nya.

Muhammad Ilham
Ilham lulusan SLB khusus netra, yakni SLB Yapti Makassar. Ia lulus sejak 2021 dan sebelumnya sudah sempat kuliah di UIN Alauddin. Namun karena jauh, ia tidak sanggup secara ekonomi dan akhirnya mendaftar di Unhas melalui jalur afirmasi. Ilham tidak mengalami keterputusan akademik yang panjang dan bahkan sangat mampu dalam mengakses literasi secara digital. Keterampilan digitalnya membuat ia dapat mengakses sejumlah bahan-bahan perkuliahan dan hanya mengalami sedikit kendala jika ia harus mengkases materi perkulihan. Ia bahkan dapat mengakses buku-buku digital namun tidak akses pdf atau dalam bentuk image atau bahkan buku-buku fisik dengan mengunakan teknologi pembaca, seperti scanning.
Ilham tidak begitu membutuhkan dukungan belajar. Sepanjang Ia dapat mengkases bahannya melalui HP atau laptopnya ia dengan mudah membaca, menulis dan mengerjakan tugas-tugasnya. Selama satu semester ini, ia juga belum membutuhkan bantuan akademik. Dalam perkuliahan, ada satu dua dosen yang memperlakukan Ilham keliru. Misalnya, pernah suatu kali, saat Ilham akan mengikuti ujian final, di adiberikan keringanan, padahal tidak ia butuhkan. Ia dapat menulis berdasarkan metode dan soal ujian yang diberikan untuk seluruh Mahasiswa. Perlakuan dosen di sini terjebak pada praktik pengasihan yang ditolak oleh aktivisme difabel.
Muhammad Girandy Tryanda
Randy lulus dari SLB Pembina Makassar pada 2018. Ia tidak mengikuti kegiatan akademik selama 5 tahun sampai akhirnya mengikuti perkuliahan di kelas di Unhas. Randy yang memiliki kemampuan belajar di bawah rata-rata memiliki kesulitan dalam mengingat mata kuliah yang dipelajari. Ia membutuhkan metode pengajaran dan belajar sesuai dengan kemampuannya. Randy familiar dengan HP dan Laptop, tapi masih sangat minim menggunakan keduanya untuk kepentingan akademik.

Randy membutuhkan dukungan belajar, seperti Dosen pendamping khusus. Model pendampingan oleh dosen ini perlu didiskusikan bersama dengan Departemen Ilmu Komunikasi. Cara lain adalah melancarkan sosialisasi ke seluruh dosen matakuliah Randi di semester dua ini dan meminta dukungan agar untuk Randi ada pendekatan khusus dalam pengajaran mereka dan standar pengujian dan penilaiannya perlu disesuaikan dengan kemampuan kognitif Randy.
Dalam salah satu diskusi Pusdis dengan pengelola SLB (Sekolah Luar Biasa), ternyata memang di SLB, siswa difabel tidak diberikan pengajaran sains, bahasa dan seni. Kebanyakan adalah vokasi atau kecakapan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan melakukan kegiatan untuk kepentingan produksi yang berkaitan dengan usaha atau pekerjaan pascasekolah. Salah satu alasannya adalah ketiadaan anggaran untuk menerima guru-guru khusus seperti guru matematika, guru IPA, guru bahasa, guru seni, dan seterusnya.
Sejauh ini, tampaknya Randy belum memanfaatkan laptop dan hape untuk menunjang perkuliahannya. Hal ini perlu disiapkan agar Randi dapat meningkatkan kemampuan digitalnya, terutama untuk keperlua perkuliahan. Kemampuan mengoperasikan laptop ini nantinya dikaitkan dengan kemudahan Randy dapat mengakses bahan-bahan perkuliahan dari dosen-dosennya. Beberapa dari bahan belajar itu perlu juga disesuaikan dengan minat Randi dalam mempelajari sesuatu di mana Randy lebih senang dengan media komunikais audio-visual.
C. Dukungan Psikologis
Dari keempat mahasiswa difabel ini, berturut-turut yang mengalami tekanan berat selama perkuliahan adalah Megawati, Fitrah Ramadhan, Muhammad Ilham dan Muhammad Girandy Tryanda. Megawati mengalami tekanan setiap hari mulai dari ia berangkat ke kampus, selama di kampus, dan pulang ke asrama mahasiswa. Ia memiliki rasa keseganan yang tinggi sehingga merasa berat hati selalu merasa menyusahkan orang yang membantu mobilitasnya. Ia juga memiliki banyak kekurangan dalam mengakses teknologi seperti komputer, HP dan perangkat digital di kampus seperti Neosia dan sikola.
Firah Ramadhan mengalami tekanan karena hambatan komunikasi verbal dengan teman-teman dan dosennya. Setiap perkuliahan ia harus mengupayakan sekeras mungkin agar bisa mengakses lebih banyak informasi. Tapi bantuan aplikasi yang bagus, mustahil ia mendapatkan haknya secara setara. Hal ini harus segera diselesaikan. Fitrah dan Pusdis serta layanan psikologi pendidikan di Unhas harus bersama-sama mencari jalan keluar dari tekanan budaya verbal ini.
Muhammad Ilham memiliki tekanan pada lingkungan fisik kampus yang kurang akses. Keberadaan guiding block sangat minim di kampus ini. Ia menjadi bergantung kepada pendamping disabilitas. Tekanan lain adalah mengakses bahan-bahan ajar yang sama sekali tidak akses secara digital. Misalnya, bahan presentasi yang diset dengan file ‘image’ (jpg, png, dll) atau slide dengan banyak grafik dan foto-foto tanpa closed caption atau penjelasan yang dimasukkan ke dalam format ‘alternative-text’ (alt-text).
Sementara Randy, walau tampaknya bersikap santai Ia juga berada dalam tekanan. Kemampuan membaca Randy ternyata kurang sehingga membutuhkan penyegaran untuk memperlancar membacanya. Kemampuan menulisnya akhirnya berpengaruh. Ia, dalam menjalankan perkuliahan banyak bertumpu pada bantuan teman-temannya, terutama bantua Ilham yang sekesal dan sejurusan. Mulai dari mengingatkan akan adanya tugas-tugas perkuliahan yang harus dikerjakannya, mengingatkan jadwal perkuliahan (pada awalnya), sampai pada pengerjaan tugas-tugas akademik yang diberikan dosen.
Sepanjang Randy diingatkan soal adanya tugas perkuliahan, apa jenis tugasnya, kapan tenggatnya, Ia akan mengupayakan. Ia akan mencari orang yang bisa membantunya. Jika Ia sudah lakukan, Ia akan nothing to lose atau pasrah saja. Jika Ia tahudirinya gagal dalam salah satu matakuliah ia menerimanya seadanya. Begitupun jika ia berhasil mendapatkan nilai baik, dia akan menikmatinya. Ke depan, Randy membutuhkan layanan konsultasi pendidikan untuk mengetahui kemampuan dan merancang model pembelajaran untuk dirinya.
D. Aksesibilitas Informasi
Sebagai mahasiswa, baik difabel maupun non-difabel, mengakses nformasi perkuliahan seharusnya mudah dan dapat dipahami. Namun, sebagaimana telah disampaikan di atas, untuk Megawati dan Randy terdapat kelemahan yang harus diatasi, yakni kemampuannya mengoperasikan perangkat teknologi digital yang akan digunakan untuk mengakses informasi. Di Unhas, berbagai informasi disampaikan melalui media sosial resmi yang dimiliki kampus, seperti unhas official, kemahasiswaan unhas, sampai pada media sosia setiap jurusan atau departemen.
Sejauh ini, karena mahasiswa difabel ini juga aktif di Pusdis, jadi kami akan menyampaikan informasi-informasi perkuliahan yang mereka butuhkan. Kami sebaliknya juga menanyakan ada informasi apa yang mereka terima secara langsung melalui dosen atau pihak-pihak tertentu. Kami uga mengharapkan agar mahasiswa difabel secara aktif menghubungi ketua departemen mereka ketika ada keperluan penting terkait perkuliahan. Kami memberikan nomer-nomer kontak yang mereka perlukan. Bahkan kami juga membuatkan group, seperti di departemen Sastra Indonesia, di mana mereka dapat mengungkapkan kebutuhan atau keperluan yang tidak dapat mereka peroleh, misalnya informasi terkait jadwal perkuliahan, masuk tidaknya dosen, penyampaian izin tidak hadir, dll. Dari group ini juga terdapat senior mahasiswa ini yang “diam-diam” membantu mahasiswa dalam hal pengajaran penggunaan laptop dan hal teknis lainnya.
Dalam pengurusan beasiswa khusus disabilitas, kami dari Pusdis membantu mahasiswa-mahasiswa difabel ini mengkomunikasikan dengan pihak universitas (rektorat) dan tingkat Fakultas serta departemen. Kami membantu pengurusan surat keterangan disabilitas—dalam upaya melengkapi berkas mereka, dan menghubungkannya dengan direktur Rumah Sakit Unhas agar mendapatkan surat keterangan disabilitas.
Akses ke sistem atau aplikasi pembelajaran Unhas seperti Neosia dan Sikola pada awalnya terhambat karena pengurusan NIM juga terlambat. Kami melalui divisi Layanan sempat juga memberikan pengaran mengakses dan menggunakan Neosia. Seharusnya, ke depan, mahasiswa-mahasiswa difabel mendapatkan fasilitas tambahan untuk belajar lebih detail melalui praktik dalam penggunaan aplikasi-aplikasi perkulian Unhas ini. Dengan begitu, kita bisa memastikan, mereka mengakses informasi dengan lebih baik dan setara. Di sisi lain, kami juga belum mendapatkan informasi seberapa akses Neosia dan Sikola bagi kesemua ragam difabel yang ada di Unhas.
Terkait beasiswa, baik Pusdis maupun rektorat bagian beasiswa harus selalu memastikan akses mahasiswa difabel terhadap informasi beasiswa, termasuk pemantauan terhadap pengajuan dokumen, pelaporan kemajuan studi, dan pencairan beasiswa. Memeriksa kembali akses mahasiswa difabel ke wifi fakultas, khususnya untuk Megawati, dan memastikan bahwa kendala akses jaringan dapat diatasi.
E. Kesejahteraan dan Pengalaman Kuliah
Tingkat kepuasan mahasiswa difabel terkait keseluruhan pengalaman selama kuliah di Unhas belum dapat diukur, perlu survei kepuasan untuk itu. Tapi, berdasarkan konstatasi (penjelasan panjang lebar) di atas, tingkat kepuasan itu tidak maksimal. Mereka menghadapi kendala aksesibilitas, baik fisik, digital dan berkomunikasi. Mereka masih menghadapi kendala kuatnya perspektif medik di mana difabel dianggap sebagai insan sakit, tidak mampu, berbeda secara fisik, dan bahkan dianggap menyusahkan. Beberapa pihak menyebutkan kata “membuat sulit”, “menyulitkan”, “pengasihan”, “pemakluman”, bahkan tak sedikit “pembiaran”.
Diksi menyulitkan bisa saja untuk para dosen dan teman-teman sekelas mereka dan sulit bagi mahasiswa difabel itu sendiri. “Kasihan dia kalau harus naik tangga”, “tidak apa-apa tidak pergi dalam kunjungan belajar, dosennya akan mengerti”, “Dia pasti kesulitan, sebaiknya tidak usah libatkan dia”, dan seterusnya. Pandangan-pandangan seperti itu sebenarnya kontra-produktif terhadap proses pembelajaran mereka yang sedang berlangsung dan upaya Unhas untuk menjadi kampus inklusif. Seharusnya, segala kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa difabel itu pertama-tama harus ditinjau dari kondisi internal kampus dan upaya memperbaikinya. Jadi jika ada kegiatan yang memungkinkan seorang mahasiswa difabel menghadapi kesulitan, maka mahasiswa tersebut harus mendapatkan layanan langsung, misalnya ketersediaan pendamping disabilitas yang bisa membantunya dalam bergeraka, berkomunikasi, dan belajar. Ke depan, segala hal yang menyulitkan itu dihilangkan sedikit demi sedikit, misalnya membuat ruangan lebih akses melalui redesain bangunan, membuat ramp, membuat guiding block, menyiapkan sistem pendampingan yang berlangsung secara berkala, menyediakan juru bahasa isyarat, dll.
Perspektif seperti ini perlu dihentikan melalui sosialisasi massif mengenai disabilitas dan bagaimana mengubah kampus lebih inklusif dan menghargai kesetaraan dalam penyediaan layanan bagi semua pihak[].
Bersambung ke tulisan ke-2
