Oleh Tim Monitoring Pusdis Unhas
Selain informasi pada tulisan sebelumnya, kami juga mendapatkan masukan dari Ibu Nurhaya Nurdin. Beliau merupakan koordinator Layanan Inklusi Disbailitas Pusdis Unhas. Berikut masukannya.
Di setiap awal semester mahasiswa difabel perlu disosialikasikan tentang hal-hal yang akan mereka hadapi, misalnya apa mata kuliah yang akan diambil, ekspektasi dari mata kuliah tersebut, bentuk bentuk penugasannya apa saja, evaluasinya seperti apa. Bisa mungkin nanti, sebelum perkuliahan dimulai, Pusat disabilitas sudah harus meminta RPS dari setiap mata kuliah yang dipaketkan untukk mahasiswa difabel agar bisa diberi pengarahan awal tentang mata kuliah dan ekspektasinya. lebih bagus lagi jika sudah bisa mengakses materi-materi perkuliahan dalam bentu PDF.

Selain itu selama ini saya juga sering mendapati pertanyaan dari Mega pertanyaan random, misalnya apa itu sks, apa itu KKN, kaderisasi, apa bedanya dosen dengan koordinator dan mentor, bagaimana kalau tidak mengerjakan tugas, bisakah hanya satu orang dosen yang mengajar selama kuliah, bisakah hanya memilih 1 mata kuliah di tiap semester, Apakah inaugurasi wajib diikuti, dll. Pertanyaaan-pertanyaan seperti ini perlu diwadahi, agar tidak membuat mereka jadi tambah bingung, kenapa tidak diajak ikut pengkaderan, kenapa mereka tidak dilibatkan dalam kegiatan inaugurasi, dan sebagainya. Jadi perlu ada pendekatan dengan pihak-pihak himpunan mahasiswa agar mahasiswa difabel tidak merasa diekslusikan dari kegiatan-kegiatan kemahasiswaan.
Terkait beasiswa, perlu dipantau dengan baik untuk pemasukan dokumen pengajuan apakah dilakukan tiap semester atau hanya sekali. Karena sepngelaman saya yang juga dapat beasiswa dari sumber yang sama, sangat banyak berkas yang harus diunggah per 3 bulanan/semester, selain itu juga musti melaporkan kemajuan studi per semester. Nah, apakah ini sudah dipantau. Lalu pencairannya juga, apakah benar-benar sudah diterima mahasswa difabel di rekening mereka? karena saat ini banyak keluhan terkait pencairan beasiswa dari dinas pendidikan tinggi.
Mohon juga dicek ulang kembali tentang akses mahasiswa difabel ke wifi fakultas, terkhusus Megawati. Saya tidak tahu apakah megawati sudah berhasil mengakses wifi di FIB. Karena saya sudah pernah mencoba melaporkan ke pihak DSTI, namun saya tidak tau kelanjutannya apakah sudah berhasil atau belum diakes oleh Megawati. Jika saya tanya Megawati, jawabanya belum bisa. Saya tidak tau belum bisa karena memang tidak bisa diakses dengan NIM tersebut ataukah kendala jaringan saat Megawati mengakses.
Bagian Kedua: Tindak lanjut Hasil Monitoring
Berdasarkan laporan monitoring atas 4 mahasiswa disabilitas di Universitas Hasanuddin, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan perubahan dalam kebijakan dan program. Berikut adalah rekomendasi yang dapat dijadikan pertimbangan:

A. Aksesibilitas Fisik dan Digital
- Menyediakan fasilitas aksesibilitas fisik yang lebih baik bagi mahasiswa dengan disabilitas fisik, seperti merancang kampus yang lebih ramah disabilitas, memperluas penggunaan kursi roda termasuk kursi roda listrik, dan memberikan sosialisasi kepada dosen-dosen mengenai kondisi dan kemampuan akademik mahasiswa disabilitas.
- Memfasilitasi aksesibilitas komunikasi bagi mahasiswa dengan disabilitas pendengaran, seperti menyediakan layanan juru bahasa isyarat, memberikan bahan ajar lebih awal, dan mempertimbangkan penggunaan teknologi yang mendukung komunikasi, seperti pengadaan aplikasi voice to text yang berkualitas bagi mahasiswa.
- Menyediakan bantuan teknologi dan pengajaran khusus bagi mahasiswa dengan disabilitas penglihatan, seperti memastikan pengoperasian platform berkomunikasi yang lebih mudah dan memperluas akses terhadap bahan-bahan perkuliahan dalam format yang dapat diakses oleh pembaca layar.
- Menyediakan pendamping khusus dan penyesuaian materi pembelajaran bagi mahasiswa dengan disabilitas fisik (Cerebral Palsy) dan kesulitan belajar, serta meningkatkan kemampuan digital mereka untuk mendukung perkuliahan.
B. Dukungan Akademik

- Memberikan dukungan akademik tambahan, seperti kelas tambahan, bantuan operasional laptop, fasilitas perpustakaan, dan kemampuan membeli buku-buku yang diwajibkan dosen-dosen.
- Memfasilitasi akses terhadap tutor bahasa untuk mahasiswa dengan disabilitas pendengaran, serta memastikan adanya ketersediaan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
- Memastikan aksesibilitas literasi digital bagi mahasiswa dengan disabilitas netra, serta memberikan dukungan dalam mengakses bahan-bahan perkuliahan secara digital.
- Memberikan layanan pendampingan khusus dan penyesuaian materi pembelajaran bagi mahasiswa dengan kesulitan belajar, serta meningkatkan kemampuan digital mereka untuk mendukung perkuliahan.
C. Dukungan Psikologis
- Menyediakan layanan psikologis dan konsultasi pendidikan bagi mahasiswa difabel untuk mengatasi tekanan akademik dan lingkungan kampus yang kurang akses.
- Menyediakan layanan konseling dan dukungan psikologis yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dengan disabilitas, seperti konseling individual, kelompok dukungan, dan pelatihan keterampilan adaptasi.
- Membuat program pelatihan kesadaran dan sensitivitas bagi staf, dosen, dan mahasiswa non-disabilitas untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi mahasiswa disabilitas.
D. Aksesibilitas Informasi
- Memastikan aksesibilitas informasi perkuliahan yang mudah dan dapat dipahami bagi mahasiswa difabel melalui media sosial resmi kampus, layanan Pusdis, dan kontak langsung dengan ketua departemen.
- Memastikan bahwa semua materi perkuliahan tersedia dalam format yang dapat diakses oleh pembaca layar, serta menyediakan bantuan teknis untuk memastikan aksesibilitas informasi yang setara bagi semua mahasiswa.
- Mengintegrasikan teknologi pendukung, seperti perangkat lunak pembaca teks dan penerjemah bahasa isyarat, dalam lingkungan perkuliahan untuk mendukung aksesibilitas informasi bagi mahasiswa dengan disabilitas.
E. Kesejahteraan dan Pengalaman Kuliah
- Melakukan survei kepuasan untuk mengevaluasi pengalaman kuliah mahasiswa difabel, serta melakukan sosialisasi massif mengenai disabilitas untuk mengubah perspektif medik menjadi inklusif di lingkungan kampus.]
- Mengembangkan program inklusi sosial dan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh mahasiswa disabilitas, serta memastikan aksesibilitas fisik dan dukungan yang diperlukan untuk partisipasi mereka
- Menyediakan pelatihan bagi staf, dosen, dan mahasiswa non-disabilitas tentang cara mendukung kesejahteraan dan pengalaman kuliah yang positif bagi mahasiswa disabilitas.
Rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk tindakan lanjut dalam meningkatkan aksesibilitas, dukungan akademik, dukungan psikologis, aksesibilitas informasi, dan kesejahteraan bagi mahasiswa difabel di Universitas Hasanuddin.
Demikian laporan hasil monitoring ini. Semoga segala rekomendasi dapat ditindaklanjuti oleh pimpinan universitas dan mendapatkan dukungan dari segenap civitas akademika Unhas[].
