Oleh: Junaidi, Relawan Teman Difabel, Pusat Disabilitas Unhas

Sebagai relawan di Pusat Disabilitas (Pusdis) Universitas Hasanuddin, saya memeroleh pengalaman dan sudut pandang baru mengenai isu disabilitas. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah perjalanan saya menjadi Relawan Teman Tuli di kampus ini.
Awal Perjalanan Sebagai Relawan
Saya bernama Junaidi, biasa dipanggil Jun. Sejak 2024, saya memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai relawan di Pusdis Unhas. Hingga hari ini, saya masih aktif mendampingi mahasiswa difabel dalam berbagai kegiatan. Pusdis Unhas sendiri menyediakan layanan seperti pendampingan belajar, akomodasi, dan dukungan komunikasi bagi mahasiswa dengan disabilitas.
Semangat untuk mencoba hal baru mendorong saya belajar bahasa isyarat. Ketertarikan itu bermula saat saya bergabung di Forum Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Barru. Di sana, saya ikut dalam program pembentukan PIK-R Inklusi di SLBN 1 Barru. Kegiatan itu membuka mata saya akan pentingnya ruang yang ramah untuk semua, termasuk teman-teman disabilitas.
Pengalaman ini terasa semakin personal karena saya sendiri memiliki keluarga dengan latar belakang disabilitas. Keponakan saya adalah orang dengan Hard of Hearing (HOH), dan sepupu saya memiliki disabilitas fisik. Dulu, saya sering merasa iba kepada mereka. Saya mengira orang disabilitas akan kesulitan berpartisipasi di masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi. Namun, setelah terlibat langsung di lingkungan inklusif, pandangan itu berubah drastis. Mereka bukan hanya mampu, tetapi juga punya bersemangat untuk berkembang.

Pertemuan yang Mengubah Pandangan
Pada Juni 2024, saya dan beberapa teman kuliah mengikuti lomba penelitian yang berfokus pada aplikasi untuk teman Tuli. Saat mencari responden, saya menemukan informasi di media sosial bahwa Universitas Hasanuddin memiliki Pusat Disabilitas. Kami pun datang dan bertemu dengan Ishak Salim, Ketua Pusdis Unhas. Saya masih ingat betul salah satu pesannya yang melekat sampai sekarang: “Nothing about us without us,” dan “Dalam dunia disabilitas, khususnya Tuli, kita harus memahami budaya dan etika Tuli.” Dari situ, Ishak menyarankan kami untuk ikut kelas bahasa isyarat yang dibimbing oleh Fitrah Ramadan, salah satu mahasiswa Tuli di Unhas.
Motivasi untuk Menjadi Relawan Teman Tuli
Awalnya saya hanya ingin mengambil dokumentasi untuk keperluan penelitian. Namun, setelah mengikuti satu pertemuan, saya langsung tertarik untuk mempelajari bahasa isyarat lebih dalam. Niat saya sederhana—ingin berteman dan bisa berkomunikasi langsung dengan teman Tuli. Tapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa akses Juru Bahasa Isyarat di ruang-ruang umum masih sangat minim, baik di seminar, kelas, maupun kegiatan akademik lainnya. Pelibatan teman Tuli masih kurang dalam segala acara, bahkan pengalaman menjadi panitia dalam membuat sebuah acara sangat jarang dialami teman-teman Tuli. Sehingga banyak teman Tuli kurang mempunyai pengetahuan luas dan dalam.



Pengalaman Pertama sebagai Relawan Berisyarat
Saya membayangkan betapa sulitnya mengakses informasi tanpa adanya Juru Bahasa Isyarat, sama halnya saat teman dengar menonton atau mengikuti acara tetapi suara tidak jelas. Hal ini memotivasi saya untuk kelak menjadi JBI, bukan hanya sebagai penerjemah, tetapi juga sebagai sahabat dan penghubung akses informasi bagi mereka.
Pengalaman pertama berisyarat datang dari permintaan Megarezky, mahasiswi Tuli angkatan 2024 Jurusan Sastra Indonesia, FIB Unhas, untuk mendampingi saat kegiatan Dies Natalis. Saya merasa gugup dan bingung. Wajar, karena itu pengalaman pertama saya. Namun saya sadar, menjadi penerjemah isyarat bukan sekadar menyampaikan isyarat, tetapi juga memahami budaya dan etika dalam dunia Tuli. Dalam proses belajar ini, saya menyadari pentingnya memahami cara mereka berkomunikasi: mendengarkan dengan mata, merespons dengan ekspresi, dan menyampaikan pesan dengan gerakan.
Momen Berkesan dalam Budaya Tuli
Salah satu momen yang berkesan adalah saat saya diajak nongkrong di sebuah kafe bersama teman-teman Tuli. Saat itu kemampuan saya dalam bahasa isyarat masih sangat terbatas. Tapi dari situ saya belajar banyak—saya benar-benar merasa masuk ke dalam budaya mereka. Saya belajar cara berkomunikasi yang unik, mendengarkan dengan mata, memahami tanpa suara, dan menyampaikan pesan dengan gerakan, serta memahami bahwa komunikasi tidak selalu harus lewat kata-kata.
“Saya akan belajar bahasa isyarat dengan serius, agar bisa terhubung dengan teman-teman Tuli, menjadi teman dan sahabat, serta dapat memberikan akses yang masih minim,” tutur saya dalam hati.
Rekomendasi sebagai Relawan Berisyarat
Setelah belajar secara intensif selama 2–3 bulan, akhirnya teman-teman Tuli meminta saya untuk meningkatkan kemampuan berisyarat di Unhas. Tentu ini merupakan kebanggaan sekaligus tantangan besar. Saya menyadari, untuk kelak menjadi JBI yang profesional, saya harus terus mengasah kemampuan dan memperluas pemahaman saya. Saat itu, Fitrah Ramadhan dan teman Tuli lainnya intensif mengajar kami.
Tantangan selama menjadi relawan berisyarat tidak sedikit. Saya harus mempelajari konsep bahasa isyarat dengan tepat agar tidak terjadi miskomunikasi. Saya juga harus mempersiapkan materi sebelum mendampingi, terutama dalam bidang-bidang khusus seperti hukum, kedokteran, atau keagamaan. Selain itu, saya terus belajar tentang budaya Tuli—seperti pentingnya kontak mata, bahasa tubuh, dan tidak memotong pembicaraan dengan berpaling saat mereka sedang ‘berbicara’ dengan isyarat.
Pengalaman dalam Diskusi Perubahan Iklim
Setiap pengalaman yang saya alami memiliki tantangan dan perasaan berbeda, salah satunya saat terlibat dalam diskusi perubahan iklim yang diselenggarakan oleh Sulapa Institute. Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada komunitas difabel tentang dampak perubahan iklim dan upaya mitigasi yang bisa dilakukan. Dalam acara ini, hadir banyak teman Tuli dari berbagai organisasi dan komunitas, termasuk Gerkatin Sulawesi Selatan. Keberagaman latar belakang peserta menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Sebagai relawan Teman Tuli, hal ini membuat saya sangat gugup dan takut melakukan kesalahan. Saya harus memastikan informasi yang disampaikan diterima dengan baik oleh semua peserta.

Menerjemahkan topik perubahan iklim bukanlah hal yang mudah. Banyak istilah ilmiah dan konsep kompleks yang perlu saya ekspresikan dengan jelas, tanpa kehilangan makna aslinya. Dalam prosesnya, saya belajar untuk menyederhanakan bahasa, menggunakan ekspresi wajah dan gerakan tangan yang lebih tegas, serta mengadaptasi isyarat sesuai dengan audiens yang ada. Selain itu, saya juga harus memahami berbagai dialek bahasa isyarat yang digunakan oleh teman-teman dari komunitas yang berbeda agar komunikasi tetap efektif.
Pembelajaran Bahasa Isyarat
Belajar bahasa isyarat bukan sekadar memahami gerakan tangan, tetapi juga tentang meresapi cara berkomunikasi yang sangat berbeda dari bahasa lisan. Bahasa ini memiliki sistem dan struktur tersendiri, di mana ekspresi wajah, kontak mata, dan bahasa tubuh berperan besar dalam menyampaikan makna. Saat pertama kali belajar, saya mengalami banyak momen di mana saya harus menyesuaikan cara berpikir agar bisa mengungkapkan pesan secara visual dan ekspresif. Hal ini sangat berbeda dengan komunikasi verbal yang lebih bergantung pada suara dan intonasi.
Salah satu hal yang paling menarik dalam proses pembelajaran adalah bagaimana setiap kata atau konsep bisa memiliki isyarat spesifik yang mencerminkan maknanya secara langsung. Misalnya, gerakan untuk “berbicara” dalam bahasa isyarat tidak hanya sekadar menggerakkan tangan, tetapi juga melibatkan ekspresi wajah yang menekankan maksud pembicara. Hal ini membuat komunikasi lebih intuitif dan ekspresif, bahkan bisa terasa lebih “hidup” dibandingkan dengan bahasa lisan.
Tantangan Berinteraksi dengan Pendengar
Namun, tantangan besar muncul saat berinteraksi dengan orang yang tidak terbiasa dengan bahasa isyarat, terutama mereka yang memiliki latar belakang sebagai pendengar. Kecanggungan muncul, baik dari diri saya maupun mereka. Sering kali, saya harus menjelaskan bahwa komunikasi melalui isyarat bukan hanya tentang tangan yang bergerak, tetapi juga cara melihat dan memahami pesan secara visual. Bagi orang yang terbiasa berkomunikasi dengan suara, memproses informasi dalam bentuk isyarat memerlukan waktu adaptasi. Kadang-kadang, saya melihat mereka berusaha keras membaca gerakan saya, tetapi masih mengalami kesulitan dalam memahami makna yang tersirat.




Menjembatani Dua Dunia
Di sisi lain, bagi saya sendiri, memiliki kemampuan berbahasa yang tidak mainstream memberikan pengalaman yang unik. Saya merasa seperti berada di antara dua dunia—dunia pendengar dan dunia Tuli. Ada kebebasan dalam mengekspresikan gagasan tanpa suara, dan ada juga tantangan dalam menjembatani komunikasi antara kedua kelompok ini. Salah satu hal yang saya pelajari adalah pentingnya membangun kepercayaan dalam komunikasi, baik dengan teman Tuli maupun dengan teman dengar. Ketika ada saling pengertian dan kesediaan untuk beradaptasi, kecanggungan berangsur-angsur menghilang, dan komunikasi menjadi lebih lancar.
Akhirnya, pembelajaran bahasa isyarat bukan hanya tentang menguasai gerakan tangan, tetapi juga tentang memahami cara berkomunikasi yang lebih inklusif dan menghilangkan batasan yang selama ini ada. Setiap kata yang saya ekspresikan dalam isyarat bukan hanya sekadar informasi, tetapi juga bagian dari perjalanan saya dalam membangun pemahaman dan koneksi dengan dunia yang lebih luas.



