Merayakan Kesetaraan: Happy International DIFABEL Day 2024

Foobersama perayaan Hari Disabilitas Internasional 2024

Oleh: Ishak Salim, Kepala Pusat Disabilitas Unhas

Secara pribadi, saya sudah turut dalam perayaan Hari Difabel Internasional selama 11 kali. Sejak 2013, tahun di mana saya sekeluarga menetap di Jogjakarta untuk studi doktoral di Jurusan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, saya merayakannya pertama kali. Menikmati tahun-tahun perayaan itu selalu ditandai dengan sukacita. Dari tahun ke tahun berbeda, atau ada saja hal unik yang membedakannya. Tapi seringnya saya merasakan bahwa perayaan hari yang bertepatan dengan 3 Desember ini adalah merayakan kemenangan. Itu karena setiap tahun sebelum perayaan itu menjadi hari-hari perjuangan kami, terutama teman-teman difabel yang menisbahkan diri mereka untuk memperjuangkan kesetaraan di bumi yang selalunya mengabaikan mereka.

Untuk saya, pertama kalinya merayakan Hari Disabilitas merupakan langkah awal mengarungi arus gerakan sosial yang mulai menguat ini. Setelah berkenalan, belajar dan mendapatkan tugas-tugas pengorganisasian, advoasi dan riset masalah disabilitas, perayaan selanjutnya menjadi perayaan kemenangan dan refleksi atas perjuangan. Di banyak tempat, perayaan hari disabilitas ini masih ditandai oleh dominannya pendekatan karitas atau amal dan medik. Kami merayakannya dengan pendekatan perlawanan atas dominasi cara pandang kenormalan berbasis tubuh sempurna (ableist, ableism) yang berpuluh tahun mengabaikan keberadaan difabel. Mereka menjadi orang-orang yang dilabeli dengan kecacatan, kesakitan, dan ketidakmampuan. Perlakuan itu bukan hanya tampak dalam kehidupan seharii-hari di rumah dan sekitar rumah, di sekolah maupun luar sekolah, di tempat kerja maupun di ruang publik, tapi juga dalam riset-riset kampus dan kebijakan negara. Segregasi atau pemisahan perlakuan baik di ruang privat atau domestik maupun publik menjadi praktik rutin dan menjadi hegemonik.

Konsekuensinya, orang-orang difabel melawan segala bentuk yang bisa disebut penindasan itu. Penindasan nyata maupun simbolik dilawan dengan penolakan atas labelisasi kecacatan sampai pada penolakan cara berpikir yang mendasari pengetahuan dan kebijakan yang merentankan dan meninggalkan difabel.

Begitulah saya merasakannya. Perayaan-perayaan yang kami lakukan, adalah perayaan capaian atas upaya de-labelisasi, de-stereotifikasi, de-segregasi, sampai de-disikriminasi. Pengetahuan yang lebih benar mengenai disabilitas berkembang, kebijakan berubah, rencana aksi nasional dan prorgam-program pembangunan yang inlusif terus membaik. Jadi perayaan Hari Difabel Internasional sesungguhnya adalah perayaan yang penuh suka cita. Bagi para pejuang ini dengan label aktivis sosial maupun individu yang bisa memengaruhi orang banyak merayakannya sebagai kegembiraan, bukan dalam keharuan yang dilandasi oleh belas kasihan.

Kami pernah merayakannya sambil mendaki gunung Latimojong dan Sesean di Enrekang, pernah merayakannya melalui tulisan sebagai hari anti-ableism https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2020/12/03/merayakan-hari-anti-ableism/ dan terakhir di Unhas, melalui serangkaian diskusi beragam tema, kampanye, pertunjukan dan pemotongan tumpeng. Banyak pihak merayakannya. Kita bergembira ria setelah beratus hari terus menerus tanpa henti memperjuangkan kesetaraan inklusi disabilitas di kampus ini.

Semoga kampus ini terus inklusif dan dosen-dosen tidak berpikir menghentikan dan menyerah pada praktik lama yang kembali memerentankan orang-orang difabel (disabling environment).

Selamat merayakan kemenangan, selamat karena kita masih diberi umur untuk merayakannya dan hari-hari berikutnya masih menunggu kita untuk melanjutkan perjuangan ini. Kampus harus inklusif, kita semua, di kampus harus membangun pengetahuan dan praktik berpengetahuan yang memanusiakan manusia.

Happy International Difabel Day 2024!

Kabar Terkini