oleh Ishak Salim, Ketua Disability Research Group, Universitas Hasanuddin
Semalam saya menerima ucapan selamat dari Perpustakaan Unhas atas amanah baru sebagai Ketua Disability Research Group (DRG). Rasanya senang dan berisi hasrat. Hasrat untuk menyalakan lagi api kolaborasi yang selama ini sudah kita rawat bersama Pusat Disabilitas Unhas: dari penyediaan inclusive corner, pengembangan katalog inklusif bagi madif netra, diskusi disabilitas dan perpustakaan, sampai obrolan rutin membahas hambatan-hambatan kecil yang sering tak terlihat tetapi sangat terasa di lantai perpustakaan.
Sejauh ini, Perpustakaan Unhas bukan hanya tempat menyimpan pengetahuan, melainkan ruang berproses—di mana kita menguji cara-cara baru agar akses itu betul-betul setara. Ucapan selamat dari rekan-rekan perpustakaan merupakan sinyal: mari tancap gas bersama.
Kenapa Kita Mengarah ke IFLA?
Supaya jelas: IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions) adalah rujukan global untuk layanan perpustakaan yang adil dan aksesibel. Pedoman terbarunya menegaskan pendekatan hak asasi, kemitraan bermakna dengan komunitas disabilitas (“nothing about us without us”), dan desain universal—dari kebijakan, SDM, hingga teknologi bantu dan format koleksi aksesibel. Semua diarahkan agar siapa pun, termasuk madif, dapat mengakses informasi secara setara.
Di tingkat internasional, IFLA juga mendorong inclusive bibliographic data—pembaruan istilah dan struktur metadata agar representasi madif di katalog tidak bias atau menstigma, selaras dengan Universal Bibliographic Control (UBC). Ini bukan hal teoretis belaka; Indonesia sendiri terlibat aktif dalam forum IFLA, termasuk mengangkat isu inklusivitas data bibliografis pada WLIC 2025.
Indonesia Sudah Bergerak—Unhas Harus Ikut Memimpin
Secara nasional, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dari Perpusnas mendapat sorotan positif di forum IFLA WLIC 2023—sebuah bukti bahwa agenda inklusi bukan wacana pinggiran, melainkan arus utama yang diakui dunia.
Di ranah akademik, evaluasi berbasis IFLA Accessibility Checklist sudah dipakai menilai perpustakaan daerah; hasilnya, banyak kemajuan tetapi juga tampak area perbaikan—dari akses fisik hingga layanan dan format konten. Ini peta jalan yang realistis untuk kita adopsi di kampus Unhas.
Prinsip: “Nothing About Us Without Us”
DRG dan Pusat Disabilitas Unhas berdiri di fondasi partisipasi bermakna madif. Tidak ada keputusan tentang kami tanpa melibatkan kami. Itu berarti: proses audit aksesibilitas, pembenahan layanan, sampai pembaruan istilah di katalog harus melibatkan mahasiswa dan dosen difabel sebagai co-designer—bukan sekadar narasumber. Semangat ini juga menjadi roh pedoman IFLA tentang kemitraan dengan komunitas disabilitas.
Lima Langkah Nyata
- Workshop kilat IFLA: pemahaman bersama tentang pedoman aksesibilitas, inclusive bibliographic data/UBC, dan desain universal untuk staf perpustakaan, DRG, Pusat Disabilitas, serta perwakilan madif.
- Audit aksesibilitas awal dengan IFLA Checklist: akses fisik (ramp, lift, signage), layanan (pendampingan, SOP ramah difabel), konten (format alternatif), dan digital (website kompatibel pembaca layar). Libatkan madif sebagai evaluator.
- Bersihkan katalog dari istilah problematik: DRG memimpin kaji-ulang tajuk subjek terkait disabilitas, merujuk praktik dan rekomendasi yang diangkat Indonesia di IFLA WLIC 2025.
- SOP layanan inklusif & pelatihan rutin: komunikasi non-stigma, etika pendampingan, penggunaan teknologi bantu—dengan simulasi kasus nyata di Unhas. (Sejalan dengan semangat pedoman IFLA ttg SDM & layanan).
- Forum triwulanan “Madif Speak Up”: kanal umpan balik permanen agar perbaikan berjalan iteratif. Prinsipnya: co-create, co-decide, co-own. (Konsisten dengan “Nothing about us without us”).
Mari Nyalakan Nyala Inklusi
Terima kasih, tim Perpustakaan Unhas, untuk ucapan selamat dan ruang kolaborasi yang hangat. Bagi saya, amanah di DRG menunjukkan komitmen untuk memastikan kampus kita, khususnya perpustakaan Unhas tidak hanya besar secara fisik, tetapi juga luas secara keadilan.
Kita sudah punya bahan bakar: pengalaman Pusat Disabilitas, jejaring DRG, dan kepemimpinan perpustakaan. Kita punya peta: pedoman IFLA. Kita punya kompas: “Nothing about us without us.”
Sekarang saatnya tancap gas.
Unhas Menuju Perpustakaan Inklusif Berstandar IFLA—Kita Bisa!
Rujukan cepat (untuk pembaca yang ingin mendalami):
- IFLA Guidelines for Making Libraries Accessible for People with Disabilities – human rights approach, kemitraan dengan komunitas disabilitas, desain universal, teknologi bantu.
- Partisipasi Indonesia di IFLA WLIC 2025: penguatan inclusive bibliographic data dan penyelarasan dengan UBC.
- Sorotan TPBIS di WLIC 2023—rekognisi internasional atas gerakan inklusi sosial Perpusnas.
- Studi evaluatif di Indonesia yang memakai IFLA Accessibility Checklist (Jawa Barat, Jakarta Cikini)—contoh nyata audit dan area perbaikan.



