(Koordinator Relawan Teman Difabel)
Sebuah cerita tentang proses, pembelajaran, dan komitmen relawan dalam mendukung kampus yang inklusif.
Lewat tulisan ini, aku ingin berbagi cerita tentang perjalanan Open recruitment Relawan Pusdis Unhas Batch 3 Tahun 2025, sebuah proses panjang yang bagi kami bukan sekadar seleksi, tapi ruang belajar tentang konsistensi, komitmen, dan keberanian untuk bertahan dalam nilai inklusivitas.
Open recruitment Batch 3 ini menjadi proses terpanjang yang pernah kami jalani dibandingkan Batch sebelumnya. Rangkaian tahap yang panjang ini sengaja kami susun sebagai hasil refleksi bersama relawan Batch 1 dan Batch 2. Dari ratusan pendaftar di Batch sebelumnya, hanya segelintir yang benar-benar bertahan hingga sekarang. Dari sanalah kami sepakat bahwa Batch 3 perlu dirancang lebih matang, bukan untuk mempersulit, tetapi untuk melihat sejauh mana semangat, tanggung jawab, dan kesiapan calon relawan untuk berjalan bersama dalam jangka panjang.
Perjalanan ini dimulai pada 02–07 September 2025 melalui pendaftaran terbuka dan inklusif. Antusiasme terasa begitu kuat dengan lebih dari 500 pendaftar dari berbagai fakultas di Universitas Hasanuddin. Sebagai panitia pengarah, aku terlibat langsung dalam menyusun alur seleksi bersama relawan Batch sebelumnya, memastikan setiap tahap memiliki makna dan tujuan yang jelas.
Tahap berikutnya dibuka melalui opening ceremony yang dilaksanakan pada 07 September 2025, sekaligus menjadi awal bagi ratusan peserta terpilih untuk mengenal nilai dan arah Relawan Teman Difabel. Proses berlanjut ke tahap wawancara pada 09–10 September 2025, sebuah tahapan yang untuk pertama kalinya dihadirkan di Open recruitment Batch 3. Dari ratusan pendaftar, sekitar 200 peserta diwawancarai secara langsung. Pada tahap ini, aku juga berperan sebagai interviewer, menggali cerita, motivasi, serta kesiapan peserta untuk terlibat dalam pendampingan teman difabel. Proses ini menjadi ruang saling mengenal yang sangat bermakna, baik bagi panitia maupun peserta.
Tahap mentoring yang dilaksanakan pada 14 September 2025 menjadi titik balik penting dalam proses ini. Pada sesi ini, aku membawakan materi pengenalan kegiatan-kegiatan di Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin. Bersama panitia lainnya, kami mengajak peserta memahami bahwa isu disabilitas bukan hanya tentang program, tetapi tentang manusia, empati, dan keberpihakan yang nyata.
Untuk pertama kalinya pula, Batch 3 menghadirkan tahap training yang berlangsung selama kurang lebih 4–6 minggu. Dalam fase ini, calon relawan mulai terlibat langsung dalam pendampingan berbagai ragam difabel di Universitas Hasanuddin. Pada tahap ini, aku berperan sebagai mentor untuk Kelompok 11, mendampingi proses belajar, refleksi, dan praktik pendampingan bersama peserta. Training yang panjang ini menjadi ruang pembuktian tentang konsistensi dan tanggung jawab, sekaligus pengalaman berharga bagi calon relawan untuk benar-benar memahami perannya.
Seluruh rangkaian panjang tersebut akhirnya bermuara pada prosesi pengukuhan Relawan Pusdis Unhas Batch 3, dengan 58 orang relawan yang berhasil menyelesaikan seluruh tahapan. Pada momen ini, 58 relawan Batch 3 secara resmi dikukuhkan oleh Wakil Rektor IV Universitas Hasanuddin bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis yakni Bapak Prof. Dr. Eng. Ir. Adi Maulana, S.T., M.Phil. Bagi kami, pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda dari proses panjang yang telah dilalui tentang konsistensi, komitmen, dan pilihan untuk tetap berjalan bersama dalam membangun ruang kampus yang lebih inklusif
Sebagai Ketua Relawan, aku merasa sangat bangga pada teman-teman relawan Batch 1 dan Batch 2 yang telah menjadi panitia dan menyusun proses ini dengan penuh dedikasi. Apresiasi yang sama juga aku sampaikan kepada staf Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin yang senantiasa mendampingi dan mengarahkan program ini. Open recruitment Batch 3 mengajarkan kami bahwa inklusivitas bukan tentang seberapa banyak yang memulai, tetapi tentang siapa yang memilih untuk tetap berjalan bersama hingga akhir.
“Menjadi relawan bukan tentang seberapa besar peran yang kita tampilkan, tetapi tentang keberanian untuk bertahan dalam proses dan tetap hadir bagi sesama. Karena dari langkah-langkah kecil yang konsisten, ruang yang inklusif perlahan bisa kita wujudkan bersama.”



