Refleksi 2 Tahun Pusat Disabilitas Unhas: Merajut Inklusi di Tengah Asumsi

Saat merayakan HUT PUsdis II

Oleh Muh. Ilham, Staf Pusat Disabilitas Unhas, Mahasiwa disabilitas Ilmu Komunikasi.

Muh. Ilham

Tidak terasa, Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin (PUSDIS UNHAS) telah memasuki usia dua tahun. Dalam rentang waktu itu, saya menyaksikan dan ikut terlibat langsung dalam geliat perjuangan mewujudkan kampus yang lebih ramah, adil, dan inklusif bagi seluruh sivitas akademika, termasuk kami—mahasiswa dengan disabilitas.

Perjalanan dua tahun ini bukan hanya soal membangun fasilitas, melainkan juga soal melawan asumsi. Tantangan akses fisik, mobilitas yang terbatas, serta minimnya kesadaran terhadap pemenuhan hak disabilitas mewarnai langkah demi langkah gerakan ini. PUSDIS tidak lahir dari ruang hampa. Ia hadir dari semangat membangun jaringan inklusi—bukan hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga menyentuh semua sendi kehidupan akademik di Unhas.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Sebaliknya, ia cukup untuk menunjukkan bahwa gagasan besar butuh perjuangan panjang. Unhas sejatinya telah lama memiliki hubungan dengan isu disabilitas. Tapi harus jujur dikatakan, sebelum PUSDIS hadir, perbincangan tentang disabilitas di kampus ini sangat minim. Banyak aspek fisik kampus yang tetap tidak berubah: tangga curam tanpa ramp, trotoar dengan lubang menganga, guiding block yang justru terhalang pohon, serta akses kursi roda yang belum tersedia di area strategis. Rasanya, pengetahuan tentang disabilitas seringkali hanya jadi pajangan untuk keperluan akreditasi semata.

Ilham (kedua dari kanan) saat perayaan HUT Pusdis ke-2 (Khalis, Ilham, Nanda, Ardi)
Muh Ilham, kedua dari kanan bersama Teman Pusdis, Khalis, Nanda dan Ardi.

Saya, sebagai difabel netra (low vision), merasakan langsung betapa belum nyamannya akses di kampus. Di sekitar halte, guiding block yang seharusnya memandu langkah saya malah tertutup pohon, teksturnya pun tidak nyaman saat diraba tongkat bahkan menjadi sangat licin di musim penghujan. Kawan saya yang menggunakan kruk saat berjalan, sudah mengeluhkan trotoar licin ini berkali-kali. Ada juga lubang-lubang terbuka yang membahayakan. Beberapa kali saya hampir terjatuh atau baju saya basah karena salah melangkah. Rasanya seperti berjalan di kampus yang belum sepenuhnya mengenali kebutuhan saya.

Saat PUSDIS baru berdiri, kami memang sering dianggap “rewel.” Kami protes jika ada area yang dipalang dan menyulitkan akses kursi roda, kami kesal jika pelayanan kampus hanya berbasis asumsi tanpa mau mendengar langsung dari kami. Kadang kami marah, karena pelayanan seolah dibuat atas dasar belas kasihan, bukan hak.

Unhas, sejak awal memang tidak dirancang untuk disabilitas. Karenanya, tak heran jika mahasiswa difabel yang kuliah di sini kerap mengeluhkan akses fisik. Tapi yang paling menyedihkan bukan sekadar hambatan fisik, melainkan asumsi-asumsi yang lahir dari ketidaktahuan dan rasa superioritas. Mulai dari tuduhan tidak bisa membaca buku, tidak bisa naik tangga, hingga tidak mampu berkomunikasi efektif tanpa Juru Bahasa Isyarat jika yang dimaksud adalah teman Tuli. Asumsi-asumsi seperti inilah yang menjadi hambatan terbesar bagi partisipasi kami.

Dan inilah masalah terbesar dalam dua tahun PUSDIS berdiri: asumsi. Asumsi bahwa standar “normal” harus dipertahankan. Jalan, koridor maupun selasar bertangga harus dan tak masalah selalu ada. Terjal sekalipun tak masalah. Jalur landai seperti ramp tak perlu dibuat landai benar. Mereka lupa bahwa inklusi adalah soal mengakomodasi keberagaman, bukan menyamakan segalanya dalam satu ukuran. Saat ini sudah mulai tampak keragaman mobilitas, keragaman komunikasi, dan belum lagi soal keragaman neuro (neuro diversity), dan lain-lain.

Tapi dua tahun ini bukan hanya cerita tentang marah-marah dan protes. Ada pula kisah kemenangan kecil yang layak dirayakan. Kini, semakin banyak ramp yang dibangun. Beberapa fakultas mulai membangun guiding block meskipun belum punya mahasiswa disabilitas. Layanan buku digital sudah tersedia untuk membantu mahasiswa difabel netra seperti saya dalam membaca. Dan yang paling membahagiakan, dibuatnya JJ PARK—Taman Inklusi Jalinan Jiwa dan Akses”—sebagai area percontohan kampus inklusif dan pusat belajar dan berinteraksi dalam keragaman disabilitas dan tanpa disabilitas. Tempat ini bukan hanya fasilitas, tetapi simbol perjuangan. Di sanalah pengetahuan, keberagaman identitas, dan semangat kesetaraan saling bersilangan.

Proses ini belum selesai. Masih banyak pekerjaan rumah. Kurikulum adaptif untuk neurodiverse belum maksimal. Kesadaran inklusi di kalangan dosen dan tendik masih perlu ditingkatkan. Dan sebagian fakultas, seperti di Gowa, belum sepenuhnya merasakan dampak dari produksi pengetahuan inklusif.

Namun saya percaya: suara kami—yang dulu dianggap rewel—kini mulai didengar. Suara mahasiswa disabilitas, staf PUSDIS, dan para relawan telah membawa Unhas menempati posisi yang kuat dalam pemeringkatan kampus ber-SDGs terbaik di Indonesia. Dua tahun berturut-turut, kampus merah kita berada di urutan kedua secara nasional. Tak hanya itu, kehadiran PUSDIS juga mendorong sejumlah fakultas, departemen, dan perpustakaan untuk memperbaiki layanan dan mendapatkan akreditasi yang lebih baik berkat prinsip inklusif.

PUSDIS tidak hadir karena belum ada mahasiswa disabilitas, melainkan karena kampus ini perlu menjawab tantangan zaman: bahwa inklusi adalah syarat mutlak bagi kampus yang ingin tumbuh adil dan setara. Saya adalah bagian dari mahasiswa afirmasi disabilitas. Tapi saya tahu, kami bisa masuk melalui jalur manapun. Dan itu dibuktikan oleh:

Nabila May Sweetha, mahasiswa Ilmu Politik (SNBT 2021), Tiara Ramadani Sinjar, mahasiswa Antropologi (SNBT 2022), Muh. Satria Duwi Julianto dari Sastra Inggris (SNBT 2024), dan Nur Amalia Azis, mahasiswi Ilmu Komunikasi (SNBP 2024).

Mereka hadir dengan keunikannya masing-masing, dan berprestasi dengan caranya. Ini bukti nyata bahwa disabilitas bukan hambatan. Ia hanyalah perbedaan cara hidup yang butuh dukungan, bukan batasan.

Hari ini, tepat dua tahun sejak 22 Juni 2023, sejarah itu ditulis di Rektorat Lantai 8. Penandatanganan MoU antara Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PERDIK) dan Universitas Hasanuddin menjadi tonggak berdirinya PUSDIS UNHAS lewat Keputusan Rektor Nomor 05613/UN4.1/Kep/2023.

Tapi jauh sebelum itu, sudah ada yang membuka jalan. Tahun 1988, Saharuddin Daming—tunanetra dari Parepare—diterima di Fakultas Hukum Unhas. Ia kemudian menjadi doktor tunanetra keempat di Indonesia, dan pertama dari Indonesia Timur. Lalu disusul oleh Nasrafuddin (1992), Hendra Ganna (1996), Risya (2011), dan mahasiswa disabilitas fisik dari Teknik yang kisahnya masih menunggu untuk dituliskan.

Hari ini, saya ingin mengucapkan:

Selamat Hari Jadi ke-2 PUSDIS UNHAS.

Terima kasih kepada:
Kak Ishak Salim – Kepala PUSDIS
Bunda, Kak Icha, Ibu Aya
Dan semua tim pengurus dan relawan luar biasa

Tanpa kalian, saya tidak akan menjadi seperti sekarang. Kepercayaan diri, pengetahuan, dan keberanian untuk bersuara—semuanya berawal dari ruang ini.

Selamat ulang tahun untuk kita semua. Mari terus melangkah bersama dalam semangat Building for Inclusion Network menuju Inclusive Society.

Kabar Terkini