Refleksi HDI 2025: Harapan dan Arti HDI Menurut Saya

foto suci

Oleh: Suci Rahmawati Rusli, Mahasiswa Difabel Universitas Hasanuddin

foto suci

Tak terasa Hari Disabilitas Internasional atau HDI semakin dekat. Saya sangat bersemangat menyambut HDI tahun 2025 ini karena seiring berjalannya waktu saya semakin menyadari bahwa lingkungan inklusif itu sangat penting. Sejak menjadi mahasiswi di Universitas Hasanuddin, saya melihat Unhas selalu berusaha mengupayakan lingkungan yang inklusif untuk semua ragam disabilitas.

Pusat Disabilitas Unhas hadir untuk mengobarkan semangat inklusivitas dan keberagaman. Keberagaman inilah yang menjadi warna baru dalam perjalanan perkuliahan saya, karena PUSDIS memiliki sejumlah relawan yang bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih inklusif setiap harinya. Meskipun masih ada beberapa tempat dan jalan di kampus merah Unhas yang belum aksesibel, saya berharap semangat menciptakan ruang inklusi tak pernah padam.

Perjuangan Memasuki Perguruan Tinggi

Saya teringat perjuangan beberapa bulan lalu ketika memperjuangkan hak untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Saya percaya bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus belajar. Perjuangan dimulai ketika saya memberanikan diri mendaftar di Universitas Hasanuddin melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Saat itu, tidak ada satu pun dari kedua orang tua saya yang mendukung keputusan ini. Namun, saya tidak berkecil hati karena masih memiliki teman-teman dan saudara yang mendukung.

Ketika SNBT digelar, saya dihalangi untuk datang ke tempat ujian karena orang tua saya berpikir: “Siapa yang peduli dengan difabel di kampus? Difabel hanya akan menjadi beban.” Tetapi saya menutup telinga dan menguatkan tekad untuk terus melangkah. Pada 28 Mei 2025, pengumuman SNBT tiba. Saya gugup, khawatir, dan takut. Saat membuka pengumuman, saya terdiam dan kecewa karena dinyatakan tidak lulus. Kecewa itu pasti, tetapi bukan berarti saya menyerah. Saya terus berusaha melalui jalur mandiri afirmasi disabilitas.

Proses Jalur Mandiri Afirmasi Disabilitas

Saya mengikuti semua prosesnya sendiri. Orang tua saya menemani hanya sebagai formalitas karena mereka belum benar-benar mengizinkan saya kuliah. Saya terus menunjukkan kegigihan dan kepercayaan diri bahwa difabel bukan beban kampus, karena kami memiliki hak yang sama seperti yang lain. Saya menjalani asesmen pertama dan kedua hingga tahap wawancara. Semua berjalan lancar, meskipun rasa takut gagal kembali menghantui.

Pada 26 Juni 2025, pengumuman jalur mandiri afirmasi disabilitas tiba. Saya membuka pengumuman dengan doa yang tak henti-hentinya. Ketika melihat hasilnya, saya tercekat. Rasanya seperti mimpi menjadi kenyataan: saya dinyatakan lulus di Program Studi Ilmu Hukum Unhas. Perjuangan panjang, air mata, dan luka terbayarkan. Saya resmi menjadi mahasiswi Unhas berkat kerja keras sendiri, tanpa dukungan orang tua.

PUSDIS: Rumah yang Hangat

Saya mendapatkan support system bukan dari keluarga, tetapi dari PUSDIS. PUSDIS hadir bukan sekadar mengupayakan kampus inklusif, tetapi juga menjadi rumah yang hangat berkat orang-orang di dalamnya yang saling memberi semangat.

Hambatan yang Dihadapi

Selama berkuliah, saya mengalami berbagai hambatan. Hambatan mobilitas muncul ketika saya kesulitan menuju kampus karena tidak ada yang mau mengantar, dan jalanan di kampus tidak aksesibel, seperti bertangga, berlubang, dan berbatu. Untuk menuju kelas MKU, saya membutuhkan bantuan lebih dari satu orang untuk mendorong kursi roda.

Selain itu, saya menghadapi hambatan komunikasi ketika berinteraksi dengan teman Tuli karena kemampuan bahasa isyarat saya masih minim, sehingga saya sering mengandalkan handphone untuk berkomunikasi. Hambatan emosional juga muncul ketika dosen memberikan tugas yang banyak dengan tenggat waktu yang sangat dekat. Hal ini membuat saya stres, apalagi perangkat yang saya gunakan terbatas sehingga memperlambat pengerjaan tugas.

Namun, semua hambatan ini tidak membuat saya menyerah. Saya percaya bahwa menuntut ilmu memang membutuhkan perjuangan, dan perjuangan itu harus dimulai dari diri kita sendiri.

Makna HDI dan Harapan ke Depan

Menurut saya, peringatan HDI adalah dorongan motivasi untuk terus menciptakan ruang inklusi dan berkembang bersama semua ragam difabel. Difabel bukan kekurangan, melainkan menghadapi hambatan—baik hambatan gerak maupun hambatan lainnya.

Saya berharap peringatan HDI yang dirayakan setiap 3 Desember menjadi motivasi bagi semua orang untuk membuka mata terhadap difabel. Kami tidak ingin dipandang sebagai orang yang memiliki kekurangan atau dikasihani. Kami hanya ingin diberi ruang untuk setara dan berkembang bersama dalam menciptakan ruang inklusi.

Because nothing about us without us, and no one left behind.

Kabar Terkini