Ditulis oleh: Fathin

Masa Kecil dan Harapan yang Tertunda
Lahir sebagai anak dengan kemampuan berbeda dari kebanyakan anak pada umumnya membuat saya memiliki pengalaman yang unik. Anak lain bisa melihat dunia dengan jendela mata, menangkap gambar lebih tajam dan luas. Saat berusia sekitar lima tahun, saya sering berharap bisa melihat langit dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan tanpa harus mendengar deskripsi dari orang lain. Saya ingin merasakan dunia melalui mata saya sendiri. Namun, itu bukan kehendak saya, melainkan kehendak Yang Maha Kuasa.
Pengalaman Pendidikan Awal
Terlepas dari semua itu, pengalaman pendidikan saya sangat berat. Saya dipaksa bertahan di lingkungan yang menganggap kemampuan saya sama dengan teman-teman lain. Saya harus melalui pembelajaran yang mereka terima dengan maksimal, sedangkan saya hanya mampu setengah-setengah.
Di sekolah dasar, saya mulai memakai kacamata. Awalnya saya menganggap kacamata hanya sebagai aksesori, belum memahami kondisi saya. Pada kelas satu hingga tiga, saya masih mampu meraih peringkat sepuluh besar. Namun, di kelas empat, penglihatan saya memburuk. Minus mata saya naik dari 5 menjadi 8 di kelas lima. Di situlah nilai saya menurun. Orang tua mengira saya terlalu sering menggunakan handphone, tanpa menyadari bahwa saya adalah anak dengan hambatan penglihatan
Lingkungan Pertemanan dan Bullying
Dalam pertemanan, saya mengalami masa senang dan sedih. Saat sekolah dasar, saya terbuka pada orang baru, suka bercanda, bermain, dan bertukar pikiran. Namun, ada masa ketika saya lelah berinteraksi karena pengalaman buruk: saya mengalami bullying yang cukup parah. Bagi seseorang yang mentalnya down, mungkin akan memilih mengakhiri hidupnya. Tetapi saya berpikir semuanya akan berlalu.
Pengalaman bullying membuat saya tertekan secara mental dan fisik. Kondisi difabel semakin membuat saya menjauh dari interaksi sosial. Saya menjadi sangat berhati-hati dalam memilih teman. Pernah suatu waktu saya diajak memancing oleh teman. Setelah selesai, hujan turun lebat. Penglihatan saya menurun drastis, dan saya sengaja ditinggalkan serta ditertawakan.
Masa Remaja dan Tantangan Aksesibilitas
Masa remaja penuh liku: sedih dan senang bercampur. Saya masih bersekolah di sekolah umum dengan tantangan aksesibilitas dan mobilitas. Saya kesulitan mengakses pelajaran karena guru menganggap saya sama seperti siswa lain. Saya hanya mengandalkan catatan teman, yang tentu saja bukan hasil pemahaman saya sendiri. Kadang saya kesal melihat orang lain begitu mudah mengakses pelajaran. Saya sempat bertanya pada diri sendiri: mengapa saya berbeda?
Saya hanya ingin belajar mandiri. Namun, keterbatasan akses membuat saya malas belajar. Rasa iri dan jengkel muncul, hingga saya bersikap cuek terhadap pelajaran. Saat masuk MA (Madrasah Aliyah), saya masih menghadapi keterbatasan akses. Untungnya, bullying tidak separah sebelumnya, dan saya punya teman sehingga bisa bertahan.
Hal yang Membanggakan
Sejak kecil, saya diajarkan berani berbicara di depan umum. Saya pernah menjadi MC dan remaja masjid di daerah saya. Saya juga menjadi anggota ormas, sebuah kebanggaan karena dengan kondisi low vision saya bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Saya pernah menjadi imam tarawih dan membagikan takjil. Momen itu singkat tetapi bermakna.
Tekad untuk Kuliah
Memasuki kelas dua MA, saya mulai memikirkan masa depan. Saya sempat depresi dan overthinking: apa kelebihan saya? Bagaimana saya bisa sukses dengan kondisi ini? Saya mendaftar SNBP, tetapi gagal. Orang tua pun kurang setuju jika saya kuliah di luar daerah. Saya meyakinkan mereka dengan tekad dan air mata.
Awalnya saya ingin operasi lasik agar bisa kuliah dengan lebih percaya diri. Setelah lulus MA, saya ke Makassar untuk memeriksa mata. Hasilnya mengejutkan: saya baru tahu bahwa saya adalah difabel netra low vision, dengan penglihatan terbatas dan kelemahan di kedua kaki. Saya down dan merasa tidak berguna.
Saya kembali ke kampung, disarankan kuliah di daerah saja. Tekad saya sempat hancur. Namun, suatu ketika saya mendengar cerita teman tentang orang dengan netra total. Itu membangkitkan semangat saya. Saya mendaftar PTN impian, tetapi gagal karena tidak mengonfirmasi kondisi difabel.
Akhirnya, saya mengetahui Universitas Hasanuddin membuka jalur afirmasi difabel untuk mewujudkan kampus inklusif. Saya mendaftar dan melalui tiga tahapan seleksi. Tahap pertama online, tahap kedua di Pusat Disabilitas Unhas. Di sana saya bertemu mahasiswa difabel yang mengajarkan aksesibilitas teknologi. Tahap ketiga wawancara, saya ditemani kakak dan orang tua. Enam hari penuh overthinking berakhir dengan kabar bahagia: saya diterima di Program Studi Ilmu Politik. Saya memilih ilmu politik agar bisa merealisasikan kesetaraan bagi difabel dan menghancurkan stigma bahwa disabilitas adalah aib. Disabilitas adalah identitas.


Pengalaman Kuliah dan Harapan
Masa kuliah memberi banyak pelajaran moral, etika, dan budaya berinteraksi. Saat PKKMB, kami merasakan Unhas semakin inklusif. Kami dianggap ada dan setara dengan mahasiswa lain.
Namun, tantangan tetap ada: mobilitas, aksesibilitas materi, dan dosen yang belum paham disabilitas. Sebagai mahasiswa low vision, saya harus bekerja ekstra keras. Salah satu hambatan adalah tangga tanpa pegangan, yang seharusnya diperhatikan agar kampus lebih inklusif.
Harapan saya ke depan: semoga Universitas Hasanuddin semakin inklusif dan menjunjung tinggi kesetaraan. Untuk teman-teman difabel, semangat! Ingat, disabilitas bukan aib, tetapi identitas. Selamat Hari Disabilitas Internasional.



