Oleh Ishak Salim, Kepala Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin
Berikut adalah foto-foto dari Muhammad Dedy Sasmita. Foto-foto ini awalnya menjadi bagian dari tulisan Dedy sebelumnya di website udc ini. Namun karena keterangan dalam foto itu sendiri memiliki kekuatan, maka redaksi memutuskan menerbitkannya secara terpisah. Melalui foto-foto ini, Dedy menyuarakan semangat dan keinginan kuat untuk hidup setara serta terus menyuarakan kekuatan kepentingan dan hak-hak warga dengan Skizoprenia. Selamat menikmati.

Meski jatuh berkali-kali, nyatanya aku masih bisa berdiri dan tersenyum.

Kadang ia adalah gerbang menuju versi diri yang lebih kuat.
Aku melewatinya, pelan-pelan, tapi pasti.

Tapi hari ini aku bisa menatapnya, tersenyum padanya, dan berkata:
“Aku masih bertahan.

Ia adalah bukti bahwa aku bertahan, bahkan ketika pikiranku sendiri menjadi medan perang.

Tak perlu berpura-pura, tak perlu menjelaskan apa-apa.
Hanya aku, dan napas yang masih berjalan.

Bahwa bahkan dalam luka, aku tetap bisa memberi hidup.

Ada pasang, ada surut.
Seperti diriku kadang kuat, kadang rapuh. Tapi tak pernah berhenti jadi indah.

bernafas lega, minum kelapa muda, dan tidak harus berpura-pura baik-baik saja.
Hari ini, aku cukup.

Aku pernah merasa tak layak mewakili siapa pun.
Tapi hari ini, aku tahu: suara penyintas juga penting untuk didengar.

Coretan tak beraturan.
Kemarahan yang tak tahu ke mana harus dibuang.
Tangan yang gemetar menahan semuanya agar tidak meledak.
Tapi inilah aku, di titik paling rapuh—yang justru menjadi awal dari keberanian untuk sembuh.
Mungkin bentuknya tak indah, tapi inilah suara yang akhirnya bisa keluar.
Sebab tak semua luka berdarah, dan tak semua sakit bisa terlihat.
Sebagai catatan penutup, saya ingin menyampaikan percakapan via Whatsapp dengan Dedy di suatu pagi di akhir Mei 2025. Percakapan ini semoga menjadi awal dari cita-cita maupun harapannya untuk bisa melakukan banyak hal bermanfaat.
Saya mengusulkan ide pemanfaatan Lounge Mozaic Identities (MOI) sebagai ruang aman untuk berbagi cerita, menggagas ekoterapi di kampus UNHAS, sekaligus mengembangkan program “Ceritakan Sepuasnya”–sebuah wadah yang telah Dedy rintis sebelumnya.
Kita bisa membangun arus gerakan baru,” tulis saya dengan semangat, “sebut saja Skizo-Power! – sebuah upaya merebut kembali narasi tentang skizofrenia dari stigma menjadi kekuatan.
Dedy merespons dengan kerendahan hati khasnya: “Masya Allah, terima kasih untuk energi positifnya, Kak…” Di balik ketertarikannya, ia mengungkap keraguan yang mendalam – ketakutan akan kegagalan, kekhawatiran belum siap, dan perjuangannya membangun kembali diri. “Apakah saya bisa, Kak? Saya sendiri masih butuh pertolongan…”
Saya menenangkannya dengan kalimat sederhana: “Nothing to loose. Kita bergerak perlahan saja.” Jawaban ini seolah menyentuhnya. “Terima kasih, Kak… Ini jawaban yang tak pernah saya dapat dari orang lain,” ujarnya. Ia bercerita bagaimana orang-orang sebelumnya selalu menuntutnya dengan target ketat, sementara ia hanya ingin menemukan rasa aman di tengah pikiran yang kerap kalut. Saya tertegun dengan kalimatnya itu, membayangkan betapa tekanan orang-orang sekitar kita bisa begitu berbahayanya bagi kehidupan seseorang.
Percakapan mengalir ke rencana jangka panjang: pendidikan kesehatan mental untuk anak dan remaja. “Ini usia krusial,” tegas saya. Dedy antusias, “Betul sekali, Kak. Penting sekali sekarang!”
Dialog ini bukan sekadar pertukaran pesan, tapi potret nyata bagaimana ruang aman penting dibangun. Sebuah ruang di mana kerentanan diakui, proses dihargai, dan harapan ditumbuhkan tanpa paksaan. Sebuah fondasi awal untuk gerakan yang tak hanya menyembuhkan, tapi juga mentransformasi stigma menjadi kekuatan kolektif.
Saya sangat berterima kasih atas tulisan, foto, dan kalimat-kalimatmu yang menyala. Save orang-orang dengan Skizofrenia.
Makassar 03 Juni 2025



