Oleh Khalish Alwahhabu N.I, Relawan Teman Difabel, Mahasiswa Kedokteran Unhas
Pada Kamis, 31 Oktober 2024, Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kegiatan Talkshow Inklusif bertajuk “Mengenal Neurodiversity, Rayakan Keberagaman dalam Nuansa Inklusif”. Acara ini berlangsung di Aula LPMPP dan mengundang berbagai narasumber yang kredibel untuk memberikan wawasan dalam diskusi.
Narasumber Berkompeten
Narasumber yang hadir dalam talkshow ini antara lain:
- dr. Rinvil Renaldi, M.Kes, Sp.KJ(K) – memberikan pandangan dari perspektif psikiater.
- Dr. dr. Jumraini Tamasse, Sp.N(K), Subsp.NRE(K) – menyampaikan pandangan sebagai ahli neurologi.
- Nur Hafidzah Mushawwir, M.Psi. – berbagi perspektif sebagai psikolog.
- Andi Akhyati, S.T. – atau akrab disapa “Mama Fikar”, memberikan pandangan sebagai orang tua mahasiswa ADHD.
Kegiatan ini berbentuk bincang-bincang yang dipandu oleh moderator, dengan fokus utama pada tema Neurodiversity.
Memahami Neurodiversity
Pembahasan dimulai dengan pertanyaan mendasar: Apa itu Neurodiversity? Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu “Neuro” yang merujuk pada sistem saraf, dan “Diversity” yang berarti keberagaman. Secara keseluruhan, Neurodiversity diartikan sebagai keberagaman cara kerja sistem saraf, terutama otak, pada berbagai individu.
Sayangnya, istilah “berkebutuhan khusus” masih sering digunakan untuk merujuk kepada individu dengan kondisi neurodiverse. Namun, istilah ini kurang tepat, karena kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan adalah sama bagi semua orang.
Perubahan Paradigma
Dahulu, pandangan terhadap disabilitas cenderung terfokus pada Medical Model of Disability, yang memandang difabel melalui lensa “kekurangan”. Pendekatan ini berupaya mencari cara untuk “menyembuhkan”, meskipun tidak selalu efektif dan dapat mengurangi rasa percaya diri individu difabel.
Sebaliknya, Social Model of Disability memandang disabilitas sebagai hasil dari ketidakmampuan lingkungan dalam menghilangkan hambatan yang membatasi pilihan hidup individu difabel. Model ini mengedepankan inklusivitas dan pengalaman pribadi sebagai bagian dari pemahaman disabilitas.
Kisah Nyata: Perjalanan Mama Fikar
Salah satu cerita yang menggugah datang dari Mama Fikar, seorang ibu yang dengan gigih mendampingi anaknya yang ADHD. Dalam sebuah diskusi, Mama Fikar menceritakan perjalanan mereka, termasuk tantangan yang harus dihadapi untuk mendapatkan terapi dan pendidikan yang layak.
“Jarak yang jauh antar pulau Selayar dan Makassar pun dilalui setiap minggunya, demi agar Fikar bisa mendapat terapi sedari dini,” ujarnya. Mama Fikar dan ayahnya harus membagi waktu, bergiliran menemani Fikar ke Makassar, semua dilakukan di akhir pekan agar tetap bisa bekerja. “Semua dilakukan demi kehidupan dan kebahagiaan anak. Siapa yang tidak rela?” katanya, mengekspresikan dedikasinya meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Kisah ini menggambarkan betapa besar pengorbanan orang tua untuk mendukung anak-anak neurodiverse, dan bagaimana sistem yang ada belum sepenuhnya mendukung mereka.
Terapi dan Pendekatan Holistik
Diskusi juga menyoroti bagaimana masyarakat sering mencari “obat” untuk menyembuhkan kondisi neurodiverse. Namun, proses ini jauh lebih kompleks dan melibatkan berbagai langkah tata laksana. Obat bukanlah satu-satunya solusi.
Selanjutnya, pembahasan beralih ke struktur otak dan sistem saraf, serta gelombang otak manusia—Beta, Alpha, Theta, dan Delta. Setiap gelombang memiliki fungsi spesifik yang berhubungan dengan aktivitas mental dan emosional.
Perbedaan dan keberagaman gelombang ini dapat dimanfaatkan dalam terapi. Modifikasi gelombang otak dapat membantu meningkatkan fungsi otak individu. Terapi ini memerlukan konsistensi dan waktu yang tidak singkat, tetapi juga dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih sederhana, seperti memperhatikan asupan makanan.
Mendorong Kesadaran dan Inklusi
Memahami pentingnya “golden period” atau periode emas dalam dua tahun pertama kehidupan anak, adalah kunci untuk mendorong pertumbuhan optimal. Pemerintah telah meluncurkan program 1000 hari pertama kehidupan untuk mendukung perkembangan anak selama masa krusial ini.
Di akhir diskusi, pentingnya biaya perawatan dan terapi dalam pengobatan individu dengan perbedaan neurologis menjadi sorotan. Kesadaran akan hal ini sangat diperlukan agar kita dapat memahami dan mendukung individu neurodiverse dengan lebih baik.
Komunitas, termasuk peserta talkshow, memiliki peran penting dalam menyebarkan kesadaran dan pengetahuan. Dengan memahami lebih banyak, kita dapat menghindari sikap negatif yang dapat merugikan, seperti penurunan kepercayaan diri anak.
Ayo Bertindak Bersama
Pengelolaan kurikulum yang lebih ramah difabel perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan, melibatkan semua pihak terkait. Perubahan ini memerlukan pendekatan bertahap dan kolaborasi yang luas.
Penting untuk diingat, Neurodiversity bukanlah penyakit melainkan variasi. Saatnya kita bersatu, merangkul setiap individu dengan segala keunikan mereka, dan menciptakan lingkungan yang inklusif bagi semua.
Mari kita wujudkan cita-cita Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari, agar setiap orang, termasuk mereka yang neurodiverse, bisa tumbuh dan berkembang tanpa batasan.
