Talkshow Kerelawanan Difabel: Pengalaman Pertama Menjadi Moderator

Oleh Tiara Ramadhani Sinjar, Mahasiswi Antropologi 2022

Tiara Ramadhani SInjar

Assalamualaikum semua. Perkenalkan, saya Tiara Ramadhani Sinjar. Biar gampang, sebut saja Ara. Saya adalah salah satu mahasiswa difabel Unhas, sekaligus relawan Pusat Disabilitas Unhas. Saya ditunjuk sebagai moderator dalam acara buka puasa sekaligus gathering relawan Pusdis, dan akan menuliskan pengalaman luar biasa ini.

Persiapan di antara Gugup dan Antusias

Beberapa hari sebelum acara, saya dan Syakira ditunjuk sebagai partner moderator talkshow. Tanpa persiapan, tanpa notifikasi. Jujur, saya kaget, tapi di sisi lain sangat excited. Seumur-umur, saya belum pernah memoderatori acara besar seperti ini. Paling-paling, saya hanya pernah jadi moderator presentasi kelompok di dalam kelas.

Karena acara ini serba mendadak, kami pun tidak punya banyak waktu untuk persiapan. Semuanya serba dadakan. Bahkan, naskah kami selesai H-1 acara. Saya tidak tahu umumnya persiapan acara seperti ini membutuhkan waktu berapa hari, pekan, atau bulan sebelumnya. Pun acara-acara Pusdis tetap berjalan lancar meski serba mendadak. Bahkan, H-1 acara, alih-alih latihan dan bagi tugas, kami malah latihan lagu isyarat atau menonton latihan drama, hahaha.

Yang menakutkan adalah apakah kami bisa mengendalikan suasana sebagai pemandu. Saya juga takut salah kata, salah tangkap, atau salah tingkah. Terlebih, ini pertama kali saya melakukannya di depan orang banyak, termasuk dosen-dosen dan petinggi kampus. Beruntung, kakak-kakak narasumber kami juga relawan Pusdis, yang sedikit mengurangi kecemasan saya. Tapi, kekuatan “bisa-bisa aja” ternyata sangat manjur.

Di sisi lain, saya bingung, teks wawancara ini dibaca pakai apa? Voice over gawai saya bermasalah, teks di kertas terlalu kecil, dan pakai laptop atau tablet pun sama saja. Solusinya, dokumen teks tersebut saya ubah jadi PDF dan dibaca di gawai.

Talkshow Inspiratif

Sebelum acara dimulai, kami sempatkan sedikit latihan. Bagi tugas, bagi pertanyaan, meski tidak sampai naskah itu habis. Mestinya, kami berdua memulai. Untuk beberapa saat, saya sendiri sedikit kelabakan dan bingung. Syukurlah, Syakira tak lama kemudian datang.

Talkshow ini mengarahkan pendengar pada tesis kedua narasumber, terkait kinerja relawan Pusat Disabilitas Unhas, juga tentang kerentanan mahasiswa difabel terhadap stres karena perkuliahan. Dari tesis Kak Tenri, “Analisis Tingkat Stres dan Strategi Koping Mahasiswa Difabel di Universitas Hasanuddin”, saya menemukan bahwa stres yang dialami mahasiswa difabel berasal dari banyak faktor, baik internal maupun eksternal, yang memerlukan dukungan dari pihak lain. Dalam mengatasi stres tersebut, umumnya mahasiswa difabel Unhas menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan berbasis emosional dan pendekatan berbasis masalah. Dua pendekatan ini memiliki beberapa tahap yang sama, tetapi fokusnya berbeda.

Sedangkan dari tesis Kak Agum, “Pengaruh Budaya Organisasi dan Knowledge Sharing Terhadap Kinerja Relawan Melalui Motivasi Relawan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin”, saya belajar bahwa budaya organisasi, terutama knowledge sharing, berpengaruh besar terhadap kinerja relawan Pusdis. Pengetahuan relawan dari kualitas knowledge sharing dapat membantu memperbaiki kualitas pendampingan mereka dalam bidang apa pun. Jadi, mereka tidak hanya menjadi relawan yang mau bekerja, tetapi juga berkualitas dalam pekerjaannya. Budaya organisasi juga dapat memengaruhi relawan dalam hal emosional, sehingga dapat meningkatkan kualitas motivasi dari sisi psikologi.

Kak Tenri adalah mahasiswi S1 prodi kesehatan masyarakat, sedangkan Kak Agum adalah mahasiswa S2 prodi manajemen. Mereka juga merupakan staf Pusdis dan sering aktif dalam kepanitiaan acara-acara Pusdis lainnya. Hingga tesis mereka tidak jauh dari isu disabilitas.

Momen Favorit dan Refleksi

Selama menjadi moderator saat itu, yang paling saya sukai adalah ketika fokus saya hanya tertuju pada narasumber. Fokus mendengarkan jawaban, fokus menelaah pertanyaan dalam panduan. Sampai tidak sadar waktu habis, dengan pertanyaan yang masih banyak, baik dari teks panduan maupun dari saya sendiri.

Menjadi moderator adalah momen yang menantang, mendidik, dan menyenangkan. Tidak cukup hanya membaca teks pertanyaan, tidak cukup hanya lihai mengelola kata-kata, tetapi juga harus pandai membawa suasana. Ke depannya, saya berharap kesempatan seperti ini ada lagi, dan saya bisa banyak belajar dari pengalaman kemarin.

Kabar Terkini